Kemana Ice World?

ice-world2

Di depan ice world 2007

Cukup kaget ketika saya melihat nama Ice World tercoret dari daftar brosur tentang Ancol yang saya terima akhir 2008. Penasaran saya bertanya ke bagian informasi Ancol. Wah ternyata dunia es itu telah menghilang dari Ancol. Jujur saya belum pernah ke wahana ini. Karena itu di kunjungan Ancol kali ini saya ingin menuju ke sana meskipun ada beberapa teman yang menyarankan untuk menghabiskan waktu di wahana lain saja, seperti Atlantis atau Pulau Bidadari. Sayang, Rp 50 ribu hanya dihabiskan dalam beberapa menit dengan fasilitas itu-itu saja. Kata teman, kami akan dipinjami mantel tebal lalu melihat-lihat pemandangan seperti di negara empat musim yang tertutup salju.

Mendengar tentang dunia es, ada suatu momen terukir ketika masih menempuh ilmu di Surabaya. Sebelum tahun 2003 warga Surabaya masih bisa menikmati es di arena ice skating yang ada di Plaza Tunjungan. Saya mulai jatuh cinta dengan permainan ini ketika teman-teman saya menantang untuk mencobainya.

es-scating

Awalnya saya ragu, dengan sepatu yang berat dan seperti pisau saya bisa meliuk-liuk di atas lapangan es yang licin. Dan ternyata sangat susah. Saya miris untuk berjalan ke tengah-tengah dan hanya berani di berjalan di pinggiran. Apabila mau jatuh toh bisa pegangan.

Namun, teman yang pernah mencoba permainan ini bilang bila es di pinggir jauh lebih licin daripada di tengah. ia menggandeng tangan saya dan mengajak saya berjalan di tengah. Tidak terasa ia melepaskan tangan saya dan saya bisa berjalan. Tekniknya, berjalan dengan huruf V dan menundukkan badan ke depan bila merasa hendak jatuh.

Beberapa kali kami mengunjungi ice skating. Saat itu sewanya murah meriah. Rp 10 ribu untuk student day dan bisa bermain sepuasnya. Setelah puas bermain, kami bisa menonton pemain hoki es yang tengah berlatih. Kami menatap mereka dengan iri. Mereka bisa meluncur dengan cepat, memukul-mukul bola dan menghindari serangan lawan dengan lincah dan gesit. Atau suatu waktu ketika para penari asyik berlatih. Mereka menari dengan tangkas, gerakan memutar atau meloncat seolah-seolah tidak ada rasa takut untuk jatuh. Padahal, saya pernah merasakan jatuh dan itu cukup sakit.

Namun, masa-masa itu tinggal kenangan. Masa ketika kami asyik meliuk-liuk di atas permukaan es lalu patungan makan hot plate sambil menyaksikan atlet-atlet hoki berlatih. Sekitar Mei 2003 arena itu ditutup dengan alasan biaya pemeliharaan yang sangat mahal. Aku tidak tahu dimana atlet hoki es dan para penari sejak itu berlatih.

Kini, meski tinggal di Jakarta aku belum pernah mencobai ice skating lagi.Dan entah kenapa ketika mendengar Ice World ditutup, saya merasakan lagi rasa kehilangan seperti ketika ice skating menghilang dari Surabaya.

~ oleh dewipuspasari pada April 20, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: