Lagi Lagi Lagi Masalah Sampah

health-beauty-water_treatment-sewage_plant-sewage-kidney-dialasis-shr0164l.jpg

Dulu kompleks kami yang terletak di timur Jakarta tidak pernah bermasalah dengan sampah. Meskipun hanya tiga kali seminggu sampah diangkut, kami baik-baik sampah. Jalanan nampak bersih dan rapi. Namun sejak awal tahun 2014, warga kompeks mungil kami mulai gelisah. Jadwal angkut sampah berubah seenaknya. Dari tiga kali seminggu sering berubah menjadi sekali seminggu, bahkan pernah sekali dalam dua minggu. Kompleks kami berubah dari layak dapat adipura menjadi kompleks darurat sampah.

Kemana tukang angkut sampah? Kenapa tidak kunjung tampak, begitu gerutu kami. Para RT dan RW juga gelisah. Permasalahannya, tempat penampungan sampah di Jakarta rata-rata sudah penuh, sehingga bak sampah kami sering ditolak. Terkadang ketika sampah sudah diangkut, petugas sampah kebingungan karena sampah di TPS tak segera dipindahkan ke tempat penampungan akhir di wilayah Bekasi.

Mencari TPS baru di Jakarta sangat tidak mudah. Ketua RW kami pernah menemukan tanah lapang yang bisa disewa, sayang tanah lapang tersebut tidak begitu jauh dari pemukiman sehingga kami batal menyewanya. Akan menyiksa para penghuni sekeliling jika kami jadi menyewanya.

Karena jadwal angkut yang semakin sulit ditebak, alhasil sampah warga nampak tidak sedap dipandang mata. Sebagian warga tetap mengeluarkan sampah sesuai jadwal. Dari total 8 RT hanya dua RT yang tiap warganya memiliki tong sampah. Salah satunya RT 7, RT kami. Tong sampah ini kami beli dari uang kas RT. Dengan adanya tong sampah ini setidaknya sampah aman di dalam, tidak terlihat dan tidak bau. Namun, warga RT selebihnya, tidak banyak yang memiliki atau mau membeli tong sampah. Mereka menaruh kresek-kresek sampah tersebut di pagar. Sangat jorok dan menganggu pemandangan.

Dan pemandangan ini nampak semakin jorok ketika tukang angkut sampah tidak muncul hingga seminggu atau lewat. Centelan kantung sampah semakin banyak. Warga RT kami pun juga was-was. Tong sampah kami penuh untuk seminggu. Saya masih lumayan karena baru berdua, pengeluaran sampah kami tidak begitu banyak. Sampah dedaunan biasanya kami simpan untuk kompos. Namun, tetangga kanan kiri yang memiliki anak lebih dari dua dan ART, pengeluaran sampahnya berlipat-lipat dari kami. Tong sampah sering tidak muat sehingga mereka memanfaatkan kardus untuk menaruh kantung sampah. Pernah suatu kali ketika sampah tidak diambil lebih dari seminggu, muncul belatung di tumpukan sampah tetangga. Kami mengernyit jijik memandangnya dan meminta ART-nya untuk merapikan sampah tersebut.

Persoalan sampah seharusnya mulai diperhatikan secara serius oleh Pemda DKI. Sampah terkait dengan kebersihan dan kesehatan. Jika sampah tak tertangani maka akan muncul bau busuk, limbah air sampah atau lindi yang mencemari air tanah, memunculkan lalat dan belatung. Nah jika semakin dibiarkan, wabah penyakit seperti kolera, disentri, diare akan merajalela. Kapan Pemda DKI akan serius mengolah sampah? Apa harus menunggu Jakarta menjadi gunungan sampah???

Keterangan gambar diambil dari http://www.cartoonstock.com

~ oleh dewipuspasari pada Juli 1, 2014.

2 Tanggapan to “Lagi Lagi Lagi Masalah Sampah”

  1. mengatasi masalah sampahyg mesti tepat infonya ada di http://teknologitpa.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: