Kisah Tiga Bersaudara Cucu Pandawa

udrayana2

Ketika menemukan komik wayang terbitan Elex Media berjudul Udrayana, rasanya kenangan kembali ke masa SD. Ya, dulu saya kerap membolak-balik komik wayang karya R.A Kosasih. Udrayana masuk koleksi ayah, putera Parikesit alias cucu Arjuna. Seperti apa kisah Udrayana?

Meskipun dulu suka membaca karya RA. Kosasih waktu masih SD, saya masih ingat jalan ceritanya, kecuali masalah nama-nama tokohnya. Akan tetapi Udrayana versi komik tahun 2004 ini memiliki gaya cerita yang berbeda dengan komik terbitan tahun 80-an. Ceritanya berbeda karena kehadiran para punakawan, Semar, dan tiga putranya, Gareng, Cepot, dan Dawala.

Cerita Udrayana adalah puluhan tahun setelah Pandawa Seda. Ya, dikisahkan para Pandawa setelah bertahta sekian tahun merasa jenuh dengan kejayaan dunia dan ingin meningkatkan sisi spiritual mereka. Tampuk tahta Hastina diserahkan ke putra Arjuna, Parikesit, yang telah beranjak dewasa.

Kisah Pandawa Seda ini bagian yang cukup bikin saya sedih (mungkin nanti bisa saya ulas di artikel tersendiri). Kejayaan Hastina diteruskan oleh Parikesit (Ayah juga punya komiknya dan ceritanya cukup menarik, cuma lupa-lupa ingat).

Setelah Parikesit mangkat, tahta Hastina masih dipegang oleh dua patih utama, Bangbang dan Sancamuka, karena putera tertua, Udrayana, belum dewasa. Sebenarnya Parikesit memiliki tiga putera. Saat terjadi serangan bangsa mahkluk halus yang merasuk ke para hewan buas, dua putera tersebut lari dari serangan dan terpisah. Saat ini mereka berdua diyakini telah tewas.

Akibat serangan hewan buas tersebut, keadaan Hastina mencekam. Rakyatnya pun mengungsi. Keadaan diperburuk oleh persediaan pangan yang menipis. Akhirnya kedua patih bersama Semar bertapa dan meminta bantuan Yang Maha Kuasa untuk membantu mengatasi tragedi tersebut.

Setelah kejadian tersebut berhasil diredam, maka Udrayana dinobatkan menjadi raja. Hastina kembali aman sentosa.

Cerita kemudian bergulir beberapa waktu kemudian ketika Udrayana ditemani punakawan berburu di Rimba Kamiaka yang masih angker seperti jaman Bima ketika bertemu dengan Arimba dan Arimbi. Di rimba ini Cepot bertemu dengan remaja tampan yang membantunya dari serangan manusia hutan.

Pria tampan yang merupakan anak asuh Bengawan Wilugangga tersebut sebenarnya adik Udrayana. Ia adalah Udrajaka yang terpisah saat masih belia.

Namun perlu waktu bagi Udrajaka untuk menyembunyikan identitasnya agar Udrayana tidak merasa terancam oleh kehadirannya yang lebih disukai oleh rakyat dan para punakawan. Tinggal satu kerabat mereka yang masih misterius, Udrasengsana, adik bungsu mereka.

Riwayat Udrasengsana inilah yang membuat kisah tiga bersaudara ini menjadi berwarna. Bahkan, akan ada pertempuran cukup besar antara Hastina melawan Miantipura yang dipimpin Raja Sulangkara.

Setelah Udrayana belum ada penerusnya yang dibuatkan cerita komik oleh RA Kosasih. Meskipun konfliknya tidak sekompleks masa-masa Pandawa, konflik tiga bersaudara ini cukup menarik. Apalagi udrajaka memiliki kemampuan seperti kakeknya, Raden Janaka alias Arjuna.

udrayana

Komik versi Elex ini juga menarik karena di komik sebelumnya, Kosasih tidak menyertakan punakawan. Kehadiran Semar cs ini membuat komik ini benar-benar rasa Jawa.

Detail Buku:
Judul : Udrayana
Penulis : RA Kosasih
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2004
Rating : 8/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 17, 2015.

4 Tanggapan to “Kisah Tiga Bersaudara Cucu Pandawa”

  1. Penasaran jadinya Pus.

  2. Buku lama, dan ternyata saya baru tahu ada lakon udrayana ini berserta saudara-saudaranya

    • Iya buku lama..saya dapatnya di rak obral Toko buku di Margo City. Apalagi versi sebelumnya..seingat saya terbitan Pradnya Paramitha..itu malah th 80an..tapi kualitas gambarnya jauh lebih bagus.

      Udrayana sudah ada komiknya sejak tahun 80-an..begitu juga Parikesit. Dulu di rumah orang tua juga ada Siwa-Parwati,Shakuntala,cuma Arjuna Sasrabahu yang hilang dan belum sempat baca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: