Yuk Beli yang Baik Produk Sawit di Sekelilingmu

kelapa sawit

Apakah Anda menyadari jika produk dari kelapa sawit itu ada di sekeliling kita?! Coba cek isi belanjaan Anda. Minyak goreng, mayonaise, sabun mandi, deterjen, bahkan es krim semua menggunakan kelapa sawit. Darimana kelapa sawit tersebut? Apakah berasal dari perusahaan yang ikut menyumbang bencana asap? Jika kita asal belanja produk-produk tersebut, kita bisa termasuk berkontribusi secara tidak langsung terhadap deforestasi dan bencana asap yang merugikan banyak masyarakat ini.

Saat saya mendapat tugas kantor ke Jambi enam tahun silam, saya melihat hamparan perkebunan sawit di mana-mana. Banyak warga yang beralih menjadi petani sawit, sawah-sawahnya dan tanahnya dibiarkannya berubah menjadi lahan sawit.

Sopir kantor pun bercerita jika dirinya juga memanfaatkan tabungannya untuk berinvestasi di kelapa sawit. Untungnya besar dan menjanjikan. Ia juga menawari saya untuk ikut berinvestasi yang saya jawab dengan senyuman. Tidak ada ruginya bertanam sawit. Untungnya besar, bujuknya.

Ya, Jambi adalah salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan sawit. Demikian pula Riau dan beberapa provinsi lainnya di Sumatera dan Kalimantan. Semuanya kaya akan tanaman kelapa sawit.

Dulu saat masih duduk di bangku sekolah, saya merasa bangga bahwa beberapa hasil bumi Indonesia diakui oleh dunia dan menduduki peringkat teratas. Salah satunya adalah kelapa sawit. Akan tetapi setelah sadar bahwa ada banyak hutan yang dikorbankan, saya merasa miris. Rasanya seperti menjadi seorang juara setelah melakukan perbuatan buruk seperti mencontek atau melemahkan pesaing. Benar-benar prestasi yang dilakukan dengan perbuatan yang memalukan.

Apakah perasaan manusiawi lenyap saat membunuh orang utan, gajah dan satwa lainnya demi ribuan hektar perkebunan kelapa sawit? Apakah tidak ada perasaan menyesal karena memberikan asap yang membahayakan pernafasan setiap tahun pada masyarakat yang tak berdosa? Dan apakah mereka tidak sadar akan masa depan alam lingkungan Indonesia? Alam seperti apa yang akan diwariskan ke anak cucu jika dirusak sedemikian masif seperti saat ini.

Jauh dari dalam lubuk hati saya merasa malu kepada alam, kepada para satwa yang selama ini hidup nyaman di dalam hutan, juga kepada masyarakat adat yang bertahun-tahun hidup damai bersama hutan. Sungguh malang nasib mereka menjadi korban bertahun-tahun pengusaha yang hanya sibuk memikirkan keuntungan mereka.

Prestasi Indonesia merusak hutan sudah menjadi catatan buruk dunia. Malaysia yang juga memiliki perkebunan kelapa sawit telah sejak beberapa tahun silam mengubah metodenya menjadi penanaman kelapa sawit yang memperhatikan lingkungan atau yang disebut suistanable palm oil.

palm oil

Upaya penanaman kelapa sawit berkelanjutan juga mulai diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 2004, terutama sejak lahirnya Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yakni asosiasi yang terdiri dari produsen, distributor, industri manufaktur, akademisi, dan pihak lainnya yang terkait dengan kelapa sawit. Asosiasi ini menekankan pentingnya sertifikasi bagi pengusaha perkebunan kelapa sawit untuk menerapkan metode penanaman yang berkelanjutan.

Di Indonesia, sertifikasi penanaman kelapa sawit yang berkelanjutan disebut ISPO yang merupakan singkatan dari Indonesia Sustainable Palm Oil. Berbeda dengan RSPO yang bersifat sukarela, ISPO merupakan standar yang wajib diikuti oleh perusahaan perkebunan sawit di Indonesia.

Sayangnya meskipun ISPO sudah diwajibkan sejak tahun 2009, namun belum sampai 20 persen dari 1500-an perusahaan kelapa sawit yang memenuhi ketentuan ini. Kesadaran perusahaan perkebunan kelapa sawit ini menyedihkan dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian seharusnya bisa lebih tegas dengan menghukum perusahaan tersebut yang lalai dalam memenuhi kewajibannya. Termasuk mempidana para pelaku pembakaran hutan yang bertahun-tahun dibiarkan tanpa ada hukuman berat. Alhasil mereka menganggap remeh hukum dan pemerintah. Mereka tetap pada kebiasaan brutal dan hina karena tidak ada sanksi yang tegas.

Penanaman kepala sawit berkelanjutan ini sebenarnya memiliki tujuan positif, yakni bagaimana memaksimalkan produksi kelapa sawit tanpa merusak hutan dan memperhatikan konservasi lahan. Ada banyak ketentuan yang harus dipenuhi seandainya melakukan perluasan lahan, yakni tidak boleh melakukan pembakaran hutan, harus ada AMDAL, tidak boleh di sumber air, lahan adat, gambut dengan kedalaman kurang dari tiga meter, dan masih banyak lagi.

Untuk itu Pemerintah harus terus menyosialisasikan penanaman kelapa sawit berkelanjutan. Yang tak kalah penting adalah melakukan pengawasan dan memberikan sanksi berat bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang melanggar ketentuan. Adanya sistem informasi geografis tentang perkebunan kelapa sawit juga penting, sehingga pemerintah dan masyarakat dapat melakukan pengawasan jika ada perusahaan yang nakal atau adanya perluasan lahan yang tidak dilaporkan.

Bagi masyarakat seperti saya, sebaiknya lebih bijak dan beli yang baik produk-produk yang mengandung minyak sawit. Sebelum membeli lebih baik memeriksa terlebih dahulu apakah perusahaan produsen produk mengandung sawit tersebut menggunakan kelapa sawit yang telah tersertifikasi ISPO dan RSPO atau malah termasuk mereka yang berkontribusi pada kerusakan lingkungan.

Gambar dari: ditjenbun.pertanian.go.id, energitoday.com

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 31, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: