Bukan Tikus dan Penjilat Hadir ke Istana

Istana negara

Sejak adanya undangan makan siang di istana negara maka suasana di Kompasiana menjadi tidak damai. Memang pemilihan 100 kompasianer layak dipertanyakan, namun menyebut mereka yang diundang dengan kata-kata kasar rasanya tak pantas.

Saya juga tidak tahu mengapa saya diundang sementara masih banyak kompasianer yang lebih layak diundang. Saya tidak kenal admin secara pribadi, dengan mas Isjet biasanya hanya tersenyum jika bertemu. Tapi bagi saya sebuah kehormatan apalagi admin sudah menelpon lebih dari lima kali dan ia tidak memaksa, hanya minta segera konfirmasi.

Saya meminta pendapat suami dulu. Suami sih tidak masalah cuma heran karena saya juga bukan pendukung fanatik Jokowi. Saya kemudian memilih hadir karena menghargai usaha admin yang menelpon pada hampir pukul 11 malam. Selain itu saya penasaran akan dalamnya istana.

Ya akhirnya pukul 9 pagi saya tiba di Gandaria City. Sebagian yang diundang rupanya saya kenal, lainnya adalah kompasianer yang pandai menulis dan berprestasi. Ada juga kompasianer yang selama ini misterius karena tidak memasang foto akhirnya ketahuan hehehe.

Sampai di istana negara saya pun biasa-biasa saja. Bahkan sampai masuk ke dalamnya saya tidak begitu merasa luar biasa malah ngantuk karena sebelum berangkat minum obat batuk karena sedang batuk cukup parah.

Akhirnya Presiden pun tiba dan kami pun makan. Saya membuat ulasan tentang masakan dan memang sop buntutnya juara. Nikmat banget.

Saat beberapa kompasianer menyampaikan aspirasinya ada yang menangis terharu tak menyangka mendapat kesempatan ini. Ada juga yang terang-terangan mengaku sebagai pendukung Prabowo tapi tetap hormat ke Jokowi.

Setelah itu Presiden pun menanggapi. Memang Jokowi bukan ahli berpidato tapi kemarin ia bisa santai berbicara tanpa teks dan bersendau gurau.

Ya saya akui sering kecewa dengan kebijakannya akhir-akhir ini. Tapi Beliau seperti manusia biasa di depan saya yang juga tak layak dicaci maki secara brutal di medsos. Beliau berkata tak apa dicaci maki asal bukan negara yang dihina.

Saat ia dengan pasrah menandatangani undangan kompasianer. Saya ragu untuk ikut meminta. Meskipun Beliau bersedia mennandatangani, Beliau tetap Presiden lho, kasihan jika dipaksa menandatangani 100 undangan.

Selepas acara makan siang saya tetap merasa independen. Tidak merasa berhutang budi, paling setor tulisan tentang masakan di istana (baca di sini).

Saya bukan penjilat atau tikus juga bukan pengemis, manusia tak bernurani, atau bebek seperti yang dituduhkan beberapa kompasianer kepada 100 kompasianer yang hadir di istana negara. Jika mereka berada di posisi saya tentunya juga enggan dihina seperti itu.

Entahlah sedih melihat kompasianer yang menuduh membabi buta seperti itu juga yang mengolok-olok admin secara brutal. Yang pernah diundang Jokowi dan lebih ekslusif hanya 14 orang juga ikut-ikutan membully, rasanya tidak pantas karena dulu juga pemilihan mereka di makan siang ekslusif tersebut juga tidak benar-benar transparan.

Meskipun sekarang suhu Kompasiana mulai reda, tapi kericuhan tersebut membuat luka. Dalam hati saya mencatat kompasianer yang menuduh sembarangan seperti itu dan mungkin enggan berhubungan dengan mereka ke depan. Maafkan saya luka tersebut masih membekas.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 15, 2015.

2 Tanggapan to “Bukan Tikus dan Penjilat Hadir ke Istana”

  1. Mbak Dewi, salam kenal. Saya kompasianers. Saat ini domisili di Jambi. Kebetulan hadir di kompasianival kemarin dan saya hadir pagi pagi sekali. Lumayan rajin ikut event offline sebelum pindah ke Jambi. Saya paham yang mbak rasakan. Dan saya paham dengan kompasianers yang bilang penjilat itu. Jujur, salah satu kompasianers yang saya hormati dan sayangi, Opa Tjipta juga jadi korban. Di sisi itulah saya memahami yang mbak rasakan. Kalau boleh saya bilang, kalau memang mbak ngga dekat dengan admin manapun, tak perlulah dimasukkan hati. Salam, Maria Margaretha.

    • Hai Etha,
      Ini Puspa yang dirimu dulu pernah cerita sekolahmu di Grogol kebanjiran. Hehehe waktu nulis artikel ini lagi kesal banget dituding macam-macam, apalagi sampai ada kompasianer senior juga dituding seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak kesal lagi.

      Iya Etha, saya tidak kenal admin secara pribadi. Yang beberapa kali ketemu biasanya mba Wawa. Jadinya saya merasa hanya beruntung saja saat itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: