Keluarga Cemara: Versi Kekinian dari Versi Novel yang Tetap Apik

Keluarga Cemara dulu menjadi serial televisi yang ditunggu. Film yang menceritakan Abah, Ema dan ketiga putrinya, Euis, Ara, dan Agil ini kaya akan pesan moral dan bisa ditonton segala umur. Versi layar lebar film inipun bisa ditonton sejak Kamis lalu. Menurutku film ini patut ditonton sekeluarga pada hari Sabtu atau Minggu.

Film dimulai dengan Euis (Adhisty Zara) yang mengikuti kontes tari modern. Ia kecewa Abah (Ringgo Agus Rahman) tidak datang menyaksikan aksinya.

Abah lalu berjanji pada ulang tahunnya akan ikut meramaikannya. Tapi janji itu hanya sekedar kata-kata, bahkan lebih buruk. Abah tak datang, yang tiba malah segerombolan orang sangar yang mengusir tamu dan mereka dari tempat tinggal dengan alasan rumah tersebut disita. Rupanya kakak Ema (Ariyo Wahab) menggelapkan uang yang dipercayakan si Abah dan tak diduga menggadaikan rumah Ara.

Sekejab dari yang awalnya kaya raya mereka menjadi sengsara. Keluarga mereka susah dihubungi untuk diminta pertolongan. Sedangkan karyawan harus mendapat hak mereka.

Si Abah memberikan pesangon kepada semua karyawan. Ia lalu menuju Kabupaten Bogor, menempati rumah warisan orang tuanya. Rumah itu sudah tua dan tak dipelihara. Mau tak mau mereka harus tinggal di sana karena harta tersisa tinggal tak seberapa.

Konflik bermula dari abah yang sulit mendapatkan pekerjaan hingga Euis yang sulit menerima kehidupan barunya. Apakah mereka bisa bertahan dan menyesuaikan diri dengen kehidupan sekarang? Ataukah mereka bernasib mujur dan kembali ke kehidupan semula?

Cerita Keluarga Cemara ini agak berbeda dengan yang ada di novel (ulasan di sini) dan versi serial televisinya. Latar waktunya lebih kekinian sehingga karakter dan kondisi keluarga Cemara setelah jatuh miskin tidak seperti versi bukunya.

Dalam versi bukunya, Keluarga Cemara harus menjual semua harta bendanya dan kemudian menetap di Tasikmalaya. Mereka tinggal di rumah bambu dan Euis terpaksa berjualan opak sebelum dan setelah pulang sekolah di pasar dan terminal. Saat mereka baru pindah putri mereka baru Euis.

Sedangkan di versi kekinian, Euis dan Ara yang merasakan ketika mereka masih kaya-raya. Euis digambarkan sebagai anak kota yang kemudian sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Mereka tinggal di Kabupaten Bogor dan rumah mereka masih lebih baik dengan halaman luas yang indah.

Menurutku perbedaan latar dan karakter itu tak masalah agar cerita ini lebih kekinian dan sesuai dengan kondisi saat ini. Apalagi becak saat ini juga sudah tidak ada di berbagai kota besar sehingga perlu penyesuaian.

Akting Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir sebagai Abah dan Ema menurutku patut diapresiasi. Nirina mampu menerjemahkan kecemasan dan kesedihannya lewat mimik dan gerak-geriknya. Sedangkan Widuri Puteri pemeran Ara mencuri perhatian dengan karakternya yang polos dan ceria. Kawan-kawan Euis seperti Deni dan Rindu juga asyik.

Euis ditampilkan berbeda dengan karakter di bukunya. Jika di buku Euis anak yang taat, sopan, dan baik, di film ini ia digambarkan snob, kurang sopan dan kurang terbuka di awal cerita. Mungkin karena di buku ia digambarkan pindah ketika masih kecil dan setelah itu ia mulai membantu ibunya berjualan. Sebenarnya aku lebih suka versi Euis dalam buku, tapi bukan berarti pengembangan karakter Euis di film tidak bagus.

Tokoh-tokoh dalam buku juga ditampilkan dalam film seperti tukang kredit Ceu Salma yang di sini ditampilkan lebih manusiawi lebih kocak berkat Asri Welas. Lalu ada Nyonya Pressier dengan suami bulenya, yang pas dibawakan Maudy Koesnadi karena seperti kehidupan nyatanya.

Film ini pas ditonton oleh keluarga karena nilai-nilai keluarganya kuat. “Keluarga Cemara” memberikan pesan agar tetap tabah dan mudah beradaptasi dalam kondisi apapun.

Minusnya, iklan dalam film ini begitu kental. Sebaiknya nama ojek daringnya disamarkan. Iklan-iklan lainnya juga cukup banyak bertebaran dalam film. Masih belum masuk taraf mengganggu keberadaan iklannya, tapi bikin dahi berkenyit.

Detail Film:
Judul Film: Keluarga Cemara
Sutradara: Yandy Laurens
Pemeran: Nirina Zubir, Ringgo Agus Rahman, Adhisty Zara, Maudy Koesnadi, Gading Marten, Widuri Puteri, Widi Mulia, Asri Welas, Ariyo Wahab, Kafin Sulthan, Yasamin Jasem,
Genre: drama keluarga
Skor: 8/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 5, 2019.

9 Tanggapan to “Keluarga Cemara: Versi Kekinian dari Versi Novel yang Tetap Apik”

  1. versi lama keluarga cemara aku belum pernah nonton, ga tau kenapa dulu gak nonton hihihi… tp baca review kel. cemara zaman now ini jadi penasaran jg..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: