Adiksi Internet

Seberapa lama Kalian mengonsumsi internet? Apakah Kalian terus-menerus memeriksa hape Kalian untuk mengetahui ada kabar terbaru dari kawan dan takut ketinggalan isu terkini dari media sosial. Jika itu terjadi maka Kalian perlu waspada karena siapa tahu Kalian mulai terakdisi internet?

Aku sudah lama ingin menulis topik ini. Lalu beberapa hari lalu aku mendapat pengetahuan baru dari dosen Fasilkom Universitas Indonesia, Betty Purwandari, yang sedang melakukan penelitian dengan topik ini. Ia tertarik untuk meneliti ini karena tingkat kecanduan internet di Indonesia juga mulai lampu merah.

Ia bercerita ketika ia mengemukakan gagasannya ke Fakultas Psikologi UI, rupanya sudah ada beberapa mahasiswa yang berkonsultansi untuk mengatasi kecanduan internetnya. Temuannya menarik, rupanya mahasiswa pria sering sekali kecanduan gim dan mahasiswa perempuan doyang banget menonton drama Korea.

Dari hasil kajian awal ini Bu Betty berupaya untuk meneliti apa saja faktor-faktor untuk mendeteksi gejala kecanduan internet dengan menggunakan salah satu teknologi komputer. Untuk detailnya kita perlu menunggu hasil penelitiannya terpublikasi dulu.

Sebenarnya teknologi internet sangat membantu manusia. Namun, hal tersebut akan menjadi kontradiksi apabila dilakukan secara berlebihan. Mengonsumsi internet selama 3-4 jam secara tidak terus-menerus masih sehat. Tapi ketika waktu produktif hanya digunakan untuk melakukan browsing atau bermain-main dengan media sosial maka tentunya jadi tanda tanya bagi diri sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Tapi konteks ini berlaku apabila Kalian bukan bekerja sebagai media social specialist atau bekerja sebagai wartawan daring yang sehari-hari perlu waktu lama untuk berhubungan dengan internet.

Mengapa adiksi internet berbahaya? Sebab, ketika seseorang teradiksi gim, medsos, browsing dan sebagainya, ia bisa tak peduli dengan kesehatan dirinya dan kondisi sekelilingnya. Ada yang terlambat makan, malas mandi, malas bergerak, hingga bisa mengakibatkan kematian. Mereka yang teradiksi juga bisa mengalami gejala depresi, sulit berkonsentrasi, dan sebagainya.

Sudah ada beberapa kasus kematian karena kecanduan internet. Dilansir oleh Detik, terjadi kasus bayi meninggal karena kedua orang tuanya asyik bermain gim. Kasus ini terjadi di Korea Selatan pada tahun 2010. Kasus kematian juga terjadi di Taiwan pada tahun 2012 yang menimpa seorang remaja karena menggunakan internet selama 40 jam tanpa henti seperti dilansir oleh Fimela.

Melihat dampak kecanduan internet yang berbahaya maka sejak tahun 2005 mulai hadir klinik dan rumah sakit untuk mereka yang mengalami kecanduan internet. Rumah sakit pertama kecanduan internet ada di Tiongkok pada tahun 2005 karena banyak remaja Tiongkok yang terjangkit adiksi. Mereka perlu waktu sekitar dua minggu atau lebih untuk mengikuti konseling agar adiksi itu berkurang.

Klinik dan rumah sakit kemudian hadir di Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, dan India seperti yang disebutkan oleh Kementerian Kesehatan RI dan Detik pada tahun 2014. Keberadaan klinik dan rumah sakit ini terus bertambah di berbagai negara lainnya seiring dengan semakin mudahnya warga dunia terakses oleh internet.

Indonesia juga mulai was-was karena berdasar data yang dilansir Detik pada tahun 2019 dari penelitian Hootsuite, Indonesia telah masuk sebagai negara peringkat kelima yang mengakses internet terlama di dunia. Ini sudah jadi lampu merah agar Kemenkes waspada.

Selain klinik, rumah sakit, dan camp juga terdapat software untuk mencegah kecanduan internet. Software ini berupa software pengatur waktu juga bisa berupa gim yang unik.

Aku sendiri juga merasa was-was agak kecanduan internet. Untuk itu setiap beberapa waktu aku memaksa diri untuk mematikan sambungan internet. Selain lebih fokus pada pekerjaan dan tidak mudah teradiksi, aku juga ingin lebih terhubung oleh dunia nyata dibandingkan dunia maya.

Sumber: 1 | 2

Gambar: pixabay dan Hootsuite

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 7, 2019.

15 Tanggapan to “Adiksi Internet”

  1. Artikel yg bagus. Trims sudah berbagi. Smoga kita smua bisa terhindar dari adiksi internet yg berlebihan. Untunglah saya tinggal di daerah yg sinyal internetnya tdk selalu ada. Jadi, tulisan ini sngat membantu untuk waspada.

  2. Sekarang lagi belajar mengurangi penggunaan gadget apalagi jika hanya scroll status media sosial yg bisa memakan waktu hehehe

  3. Wah saya nih desember kemarin nyaris nomofobia gara-gara youtube. Nonton terus sebelum tidur malam, sampai dini hari. Pas buka mata paginya langsung cek hp. Rasanya Ya Allaaaah gelisah. Ga enak deh. Kepala juga kayak pening gitu tapi nggak pusing. Gimana ya. Berat aja gitu rasanya. Pas ganti tahun, langsung deh bertekad membenahi jadwal nengok gawai.

  4. saya menggunanakan internet untuk mengecek harga saham.intinya kita gunakan untuk hal yang positif dan produktif

  5. Lama kelamaan seluruh dunia kita pindah ke Internet.

  6. Mungkin saya juga termasuk di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: