Musik Indonesia Mati Suri di Permukaan

Hari ini tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Wah kalau berbicara tentang perkembangan musik Indonesia selintas di permukaan nampak mati suri. Benarkah seperti itu?

Hari Musik Nasional ditetapkan tanggal 9 Maret untuk mengapresiasi jasa musisi dan komposer Wage Rudolf Supratman. Jika Kalian pernah membaca kisah Wage, Beliau sebenarnya bukan hanya mengarang lagu Indonesia 3 Stanza. Ada beberapa lagu lainnya yang juga populer seperti Ibu Kita Kartini, Dari Barat sampai Timur, dan sebagainya. Tanggal 9 Maret merupakan tanggal lahir komposer tersebut.

Tentang musik Indonesia, Indonesia pernah berjaya pada tahun 90-an hingga pertengahan tahun 2000-an. Setelah itu entah kenapa musik-musik cenderung seragam. Apalagi saat ini. Musik-musik yang sering terdengar hanya itu-itu saja. Dangdut pantura dan dangdut dengan bahasa yang vulgar kembali menyeruak. Lagu pop Melayu kembali tak terdengar. Penyanyi-penyanyi yang muncul di televisi dan radio hanya itu-itu seolah-olah hanya mereka yang masih eksis padahal kualitasnya pas-pasan.

Dunia musik Indonesia yang sesungguhnya baru terlihat ketika aku menyaksikan festival dan even musik. Mereka kebanyakan tampil off air karena panggung di televisi seolah-olah dikuasai agensi tertentu dengan artis-artis tertentu. Artis-artis kesayangan yang dibesarkan dengan metode tertentu.

Di antara acara penghargaan musik di televisi yang saat ini menurutku masih obyektif yaitu di Net. Di situ ada banyak nama yang mungkin kurang terdengar di masyarakat. Tapi kualitasnya begitu terakui. Dipha Barus, misalnya. Ia sangat jarang tampil di even teve tapi ia laris di panggung off air dan karya-karyanya banyak mendapat apresiasi.

Hehehe ini tulisannya tidak terstuktur. Intinya kalau hanya melihat dari televisi dan radio, musik Indonesia sepertinya mati suri dan hanya dikuasai segelintir musisi dan penyanyi. Tapi di panggung sebenarnya, musisi Indonesia masih menjanjikan. Dari segi kualitas lagunya, performanya juga atmosfer panggungnya.

Musik Indonesia di panggung-panggung off air masih beragam. Masih banyak musisi yang setia dengan musik cadas. Ada yang fokus di jazz, musik keroncong, musik tahun 50-an, rap, dan masih banyak lagi. Oh ya dulu juga ada festival musik bambu sebagai salah satu musik etnis Indonesia. Acara seperti itu perlu lagi dibangkitkan.

Sebaiknya industri pertelevisian tidak hanya terpaku pada artis-artis itu saja. Bosan melihatnya. Mungkin mereka banyak penggemar tapi sebagian pihak lain juga ingin melihat penyanyi dan musisi lain yang lebih berkualitas dari mereka.

Indonesia memang sebagai salah satu negeri dangdut. Tapi kalau setiap hari dijejali acara dangdut hingga tengah malam rasanya eneg juga. Coba sekali-kali angkat musik etnik lainnya seperti musik dengan cengkok Sunda yang indah, musik gamelan Bali yang megah, alunan Saluang yang indah, musik dari mandolin dan sebagainya.

Indonesia memiliki sekitar 1340 suku bangsa dengan tiap suku rata-rata memiliki lagu tradisional dan alat musik tradisionalnya. Ini sebuah potensi. Menghidupkan kembali orkestra dengan alat musik tradisional merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan dan memelihara kesenian tradisional ini tetap eksis.

Di Indonesia lah surga musik itu berada.
Selamat Hari Musik NasionalšŸ˜€

Gambar bawah: web alatmusikindonesia

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 9, 2019.

2 Tanggapan to “Musik Indonesia Mati Suri di Permukaan”

  1. Iya ni, kamu benar. Musik skrg malahan kian gak jelas, muncul nya dangdut2 dg syair yg sprti kurang mendidik gitu. Sy jg prihatin. Kata seorang ahli musik, musik itu cermin zaman. Zamannya lg ap itu tercermin lwat musik yg ada. Btw, klau musik di zaman now kek gini, zaman kita lg ap ya, dan mau ke mana arahnya? Bingung. Tp gmn klau menurutmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: