Turis Berlebih Malah Jadi Masalah

Pantai Maya

Sektor pariwisata sedang jadi primadona sejak lima tahun terakhir. Hal ini didukung dengan jumlah wisatawan lokal yang membludak dan wisatawan mancanegara yang tertarik untuk menikmati pariwisata di Indonesia. Namun jumlah wisatawan yang melonjak ini menimbulkan masalah baru, baik bagi kenyamanan masyarakat yang berada di lingkungan obyek pariwisata maupun bagi lingkungan alam

Aku pernah merasakan tidak enaknya berwisata di lingkungan yang padat wisatawan. Mau foto-foto susah, mau menikmati pemandangan alamnya juga kurang nyaman. Ulah wisatawan mancanegara juga tidak selalu menyenangkan dan lebih baik dari wisatawan lokal. Banyak di antara mereka yang juga doyan foto dan kurang tertib.

Waktu itu aku bersama dua kawanku berlibur ke Phuket. Di sana kami ikut tur lokal ke pantai-pantai di sana bersama para wisatawan mancanegara lainnya. Melihat air, aku dan kawanku pun ingin ikut berenang dan snorkeling. Eh nyananya lautnya sudah penuh turis seperti cendol. Kami cuma sebentar berenang dan malah kasihan dengan ikan-ikan yang ada di lautan tersebut.

Begitu pula ketika kami menuju Maia Bay yang beken karena digunakan sebagai syuting “The Beach”-nya Leonardo. Ingin foto dengan latar belakang lautan dan tebing rasanya susah sekali, jarang yang mau mengalah. Padahal kami juga tak banci kamera, hanya ingin punya 1-2 foto kenangan.

Hal ini sama kualami ketika di Hong Kong, di the Peak. Duh aku tak punya foto sendiri dengan latar panorama Hong Kong dari atas. Wisatawan lainnya susah mengalah. Mau berangkat dan kembali antrinya bukan main.

Di Indonesia fenomena kelebihan turis (overtourism). Hal ini terjadi di daerah-daerah yang kaya obyek wisata seperti di Puncak, Bogor, Yogyakarta, Bandung, Malang, Bali, dan Labuan Bajo.

Rasanya pemerintah daerah dan Kemenpar perlu mengendalikan dengan penerapan pembatasan wisatawan. Tidak ada gunanya jika jumlah pendapatan daerah naik tapi lingkungan alam rusak juga warga sekitar malah tak nyaman.

Aku sudah lama tak bisa menikmati berwisata ke Batu dan kota Malang sekitar karena dipenuhi wisatawan dari Surabaya dan daerah lainnya.  Mungkin masyarakat di Yogyakarta,Puncak, dan Bandung juga merasakan hal yang sama. Ada rasa tidak nyaman saat akhir pekan dan liburan panjang karena wisatawan. Yang menikmati hanya tempat makan dan tempat oleh-oleh, lainnya malah tidak nyaman dengan kampung halamannya sendiri.

Penduduk di Karimunjawa harus bekerja keras menyingkirkan sampah wisatawan. Bunaken juga pernah mengalami masalah dengan makhluk airnya karena suka diberi roti oleh wisatawan, terumbu karang Raja Ampat pernah ditabrak kapal besar, dan Labuan Bajo mulai mengalami lonjakan sampah hingga berton-ton.

Kondisi ini sudah tidak sehat. Jangan gadaikan lingkungan alam dan kenyamanan hidup hanya untuk segelintir pihak dan keuntungan pendapatan daerah sesaat.

 

 

~ oleh dewipuspasari pada Juni 21, 2019.

2 Tanggapan to “Turis Berlebih Malah Jadi Masalah”

  1. Yup, itu terjadi di mana-mana, tapi tidak bisa dipungkiri, ketika kunjungan meningkat maka geliat ekonomi juga turut meningkat.

    • Kuatirnya malah hanya segelintir yang menikmati, sementara yang lain malah hanya mendapati alam dan lingkungan yang rusak. Di Karimunjawa, malah warga lain repot membersihkan sampah di laut karena kuatir ikan menjauh. Di beberapa gunung pernah terjadi kebakaran, yang terganggu malah warga lainnya, bukan yang berkaitan langsung dengan wisata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: