Proses Memboyong Novel Ke Layar Lebar yang Kurang Mulus di “Perahu Kertas”

perahu kertas
Ketika sebuah novel diboyong ke layar lebar biasanya terjadi pro dan kontra di antara penggemar novel itu sendiri. Apakah si sutradara mampu menerjemahkan imajinasi dalam novel menjadi cerita yang mengalir? Tidak sedikit memang novel sukses yang malah gagal ketika difilmkan,”Perahu Kertas” bisa menjadi contoh sebuah film yang berhasil menyampaikan ide penulis. Minusnya di sisi durasinya yang terlalu panjang, sehingga film ini dipecah menjadi dua bagian.
“Perahu Kertas” adalah novel karya Dewi Lestari yang paling ringan di antara karya-karyanya lainnya. Ceritanya pun berkisar tentang romansa remaja. Meski demikian ada beberapa istilah dan pesan yang menarik dalam novel ini sehingga populer dan laris-manis.

Ketika kemudian film ini diangkat ke layar lebar, para fans pun antusias. Sebagai Kugy adalah Maudy Ayunda yang namanya mulai terangkat sejak ia hadir di “Untuk Rena”. Sementara Adipati Dolken sebagai Keenan di sini kehadirannya semakin diperhitungkan karena kualitas aktingnya.

Cerita “Perahu Kertas” menyoroti tentang lika-liku hubungan Kugy dan Keenan. Mereka saling menyukai tapi kemudian melalui sejumlah hal yang menyebabkan mereka tak pernah mengungkapkan perasaan mereka. Roda terus berjalan dan mereka menempuh kehidupan masing-masing hingga jalan hidup keduanya bersimpangan.

Bahasa novel dan bahasa dalam film itu berbeda. Begitu juga cara penyampaian dalam novel dan film bisa jadi berbeda, baik dalam urutan, adegan-adegannya, juga penyelesaiannya. Biasanya ada kompromi antara penulis dan sutradara, penulis mencoba mempertahankan ide dan pesan utama dalam novelnya, sedangkan sutradara memberikan saran bagaimana cerita tersebut dieksekusi dan diwujudkan dalam gambar bergerak.

perahu kertas

Perahu Kertas merupakan novel yang diterbitkan Mizan (sumber gambar: Mizan)


Di “Perahu Kertas” nampaknya penulis lebih dominan. Hal itu wajar dan sah-sah saja. Namun yang terjadi kemudian adalah durasinya yang terlewat panjang, yaitu mencapai 3 jam 32 menit. Umumnya film Indonesia berkisar 1,5 – 2 jam. Ada contoh kasus seperti “Bumi Manusia” yang juga sama-sama disutradarai Hanung Bramantryo berkisar tiga jaman. Tapi karena ceritanya memang kompleks, durasi yang panjang pun tidak masalah.

“Perahu Kertas” bukanlah drama yang kompleks. Ia cerita sederhana tentang percintaan remaja dengan warna-warninya yang membuat mereka memendam perasaan. Ia cerita yang ringan, sehingga menurutku ada banyak adegan yang kurang penting yang sebenarnya bisa dihilangkan.

perahu kertas

Perahu Kertas juga melibatkan Reza Rahadian (sumber: tabloidbintang)


Jika novel “Harry Potter” yang tiap jilidnya begitu tebal saja bisa menjadi satu cerita (kecuali bagian terakhirnya), maka “Perahu Kertas” sebenarnya juga bisa melakukannya. Kenapa sebaiknya jadi satu film saja? Ini dikaitkan dengan kenyamanan. Tapi mungkin bergantung ke selera penonton. Saya sendiri kurang nyaman untuk film drama dari sebuah novel dibuat menjadi dua bagian, kecuali jika novelnya berjilid-jilid atau konfliknya kompleks. Film drama yang dipecah jadi dua bagian, rasanya jadi seperti nonton miniserial, bukan film layar lebar.

Rasa kurang nyaman ini jadi kekurangan tersendiri bagi “Perahu Kertas”. Padahal dari segi cerita, jajaran pemeran, akting, dan soundtrack-nya sudah juara. Lagu-lagu dalam film ini enak didengar. Lagu tema utamanya yang dibawakan oleh Maudy juga berkesan dan sesuai dengan pesan yang disampaikan dalam film.

Memindahkan novel ke film jadi sebuah tantangan tersendiri. Jika berhasil maka akan menjadi dobel ekstra sukses, penggemar novel dan penggemar film akan sama-sama merasa gembira.

Gambar atas dari okezone

~ oleh dewipuspasari pada Juni 24, 2020.

5 Tanggapan to “Proses Memboyong Novel Ke Layar Lebar yang Kurang Mulus di “Perahu Kertas””

  1. Novel favoritku. Namun, entah kenapa aku agak ‘nggak berani’ nonton filmnya. Jadi sampai sekarang aku malah mengulang ulang novelnya tanpa pernah menonton adaptasinya. Mungkin aku terlalu taku kecewa atau bagaimana. Ya, memang sih, kadang yang sering terjadi film tidak akan sesempurna apa yang ada di bayangan kita.

  2. banyak dari beberapa film dari novel, namun terkadang sedikit mengecewakan, karna diluar ekspektasi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: