Menulis dan Kesehatan Mental

Menulis
Di Indonesia kesehatan mental belum banyak dijadikan bahan pembahasan. Kesehatan fisik memang penting tapi kesehatan mental juga tak kalah signifikan. Mumpung tanggal 10 Oktober lalu diperingati sebagai hari kesehatan mental, yuk kita bahas secara garis besar.

Menurut website Kementerian Kesehatan, seseorang yang memiliki kesehatan fisik yang oke adalah mereka yang kondisi batinnya tenteram dan tenang. Ia bisa menikmati hidupnya dan juga menghargai orang-orang di sekelilingnya.

Sedangkan menurut WHO kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan mengelola stress, dapat bekerja dengan produktif, dan juga kontributif ke lingkungannya.

Stress dan kesehatan mental memiliki keterkaitan satu sama lain. Stress ini bisa hadir ketika kita berinteraksi baik dengan dunia maya maupun dengan dunia nyata. Tapi juga tidak menutup ada sebab-sebab lain yang memicu kondisi kesehatan mental tidak oke.

Tekanan pekerjaan, perundungan dari teman, rasa was-was berlebihan, kemacetan, tuntutan dari orang tua dan lainnya adalah contoh hal-hal yang bisa memicu stress. Begitu juga dengan harapan yang berlebihan dan adiksi kepada sesuatu.

Ketika seseorang kemudian merasa sedih, menarik diri, tak peduli, mudah marah, sulit tidur, merasa lelah, emosi tak stabil, dan kemudian mulai anti sosial maka hal ini patut diwaspadai. Ada baiknya ketika gejala ini hadir maka perlu dicari solusi agar tak memburuk.

Karena jika dibiarkan maka bisa terjadi kondisinya makin memburuk. Ia bisa mengalami gangguan makan, gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, gangguan kepribadian dan masih banyak lagi.

Aku tak membahas lebih dalam karena pengetahuanku juga masih terbatas. Di lingkunganku sendiri, mulai makin banyak mereka yang kecanduan games dan anti sosial.

Aku jadi was-was tentang kesehatan mental diri sendiri. Pasalnya aku juga mulai kagok setiap hendak ke luar rumah karena semakin jarangnya aku ke luar rumah pada era pandemi.

Melalui menulis aku coba melakukan terapi ke diriku. Ya ini bermanfaat dan ampuh ke diriku, tapi untuk orang lain belum tentu manjur. Ada yang lebih pas dengan menyanyi seperti Jonathan Davis, ada juga yang memilih melukis atau melakukan jogging. Sebenarnya terapi lain yang lebih pas dariku adalah melakukan perjalanan. 

Aku menulis apa saja hal-hal yang tebersit di benakku. Jika aku susah mengungkapnya karena merasa tak aman maka kucoba buat dalam bentuk fiksi seperti cerpen dan puisi tentang ini itu.

Aku menulis setiap hari. Rasanya lega setiap kali aku melakukannya, apalagi jiia aku menulis tentang hal yang paling kuminati. Tentang musik.

Blog meski tak selalu berisi curhat merupakan catatan emosiku. Dari setiap cerita aku tahu emosiku, apakah sedang netral, senang, sedih, atau marah. Tulisan yang kubuat saat sedih tentunya berbeda dengan tulisan yang kubuat saat netral. 

Ya menulis ini semacam terapi yang gratis. Ada kalanya perlu mengatur nafas dulu agar aku tak terlalu emosional saat menulisnya.

Gambar: pexels

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 13, 2020.

3 Tanggapan to “Menulis dan Kesehatan Mental”

  1. Ngeblog juga bisa ya buat jaga kesehatan mental 🙂

  2. Menulis, memang bs jdi semacam terapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: