Diskriminasi Wisatawan

Borobudur

Seorang kawan yang kukenal di Couchsurfing membantuku jadi pemandu wisatawan selama Bangalore. Ia mengajakku ke sebuah istana musim panas raja yang pernah memerintah di Bangalore. Ia menawarkanku membelikanku tiket yang berujung ia dimarahi oleh petugasnya. Aku mencari tahu.

Rupanya ia membeli tiket untuk wisatawan lokal untukku. Harganya memang sangat jauh berbeda. Meski ia yang membelinya tapi rupanya petugas tahu aku orang asing. Aku pun lalu membayar sesuai dengan tarif asing. Hal yang sama juga kualami ketika berkunjung ke Taj Mahal. Tarifnya sangat jomplang antara wisatawan lokal dan mancanegara. 

Diskriminasi wisatawan. Aku tak tahu apalah perlu ada atau ditiadakan. Biasanya tarif ada tarif pelajar dan umum. Lalu ada juga yang mengenakan tarif lansia, tentunya harganya lebih murah daripada wisatawan umum. Tapi diskriminasi tarif wisatawan umumnya ada di tempat wisata berkelas internasional. Candi Borobudur, misalnya.

Seingatku tarif antara wisatawan lokal dan manca jauh berbeda. Ketika banyak wisatawan protes aku tak tahu apakah pro dan kontra karena di negara lain juga sama. Tapi memang sebaiknya jangan terlalu jomplang.

Beda 50 persen saja sudah cukup. Misal tarif untuk wisatawan lokal Rp 30rb dan asing Rp 45 ribu menurutku masih wajar. Jangan seperti di Taj Mahal dan tempat lainnya yang sangat berbeda. Kita tak ingin susah di negara orang juga kan?!

Perbedaan tarif juga kualami ketika di Benoa, Bali. Harga paket untuk turis asing lumayan mahal. Tak heran jika beberapa pelaku wisata olah raga air lebih suka dengab turis asing daripada dalam negeri, dapatnya lebih banyak. Tapi ini hanya oknum, tak semuanya begitu.

Aku pernah mengalami perlakuan tak enak ketika mencobai kapal pesiar sehari di Bali bersama dua kawanku. Kawanku dapat potongan harga karena ia kenal dengan pengelolanya. 

Memang kustomer kapal pesiar saat itu adalah turis berkulit putih sehingga kehadiran kami agak mencolok. Aku terkejut ketika ada satu kru yang bertanya kenapa kami bisa ikut di sini. Nada bicaranya tak enak, seolah-olah aku penumpang gratisan. Padahal aku juga membayar. Diskonnya juga tidak besar. 

Kenapa ia apriori dengan wisatawan dalam negeri? Apakah karena gara-gara tarifnya lebih murah? Entahlah. 

Sekarang pada masa pandemi hanya sedikit wisatawan manca. Yang ada adalah turis domestik, warga lokal dan mereka yang tinggal tak jauh dari obyek wisata. Merekalah yang masih menghidupi obyek wisata meski jumlahnya juga tentunya menurun dibandingkan sebelum wabah.

 

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 17, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: