Pari Penyet Masa Mahasiswa


Jaman dulu ketika masih baru menjadi mahasiswa dan tinggal di sebuah kos-kosan perkampungan yang padat, surga kecilku adalah sebuah kedai yang menjual aneka penyetan. Ia baru buka petang dan pembelinya tak pernah sepi, rata-rata pembelinya pria.

Memang tak salah bila pembelinya kebanyakan pria, pasalnya kampus tempatku meninba imu juga mahasiswanya didominasi pria, mungkin masa itu rata-rata masih 70:30, tapi ada juga jurusan yang komposisinya 95:5 dan 30:70. Alasan berikutnya karena kedai ini murah meriah. Jaman itu rata-rata makanan dijual Rp1.500,- hingga Rp2.000,-. Nah di penyet-penyetan ini ada menu termurah yaitu Rp700,-.

Lumayan kan dengan harga Rp700,-, jadi bisa makan dua kali jika lapar banget. Makanan paling murah itu adalah tempe penyet. Isinya lumayan sih, nasi sepiring dengan tempe goreng ukuran balok sekitar 8cm×8cm×0,3cm. Ada lalapan berupa mentimun dan daun kemangi. Plus sambal merah. Nah, sambalnya ini yang sedap dan bikin enak. Di sini seingatku minumannya juga murah. Favoritku di sini adalah es cincau. Tapi aku lupa harganya.

Kedai ini agak lumayan tempatnya. Ia bagian dari rumah kosan, jadinya lantainya sudah berkeramik dan ada kipas angin. Yang bikin waspada adalah ramainya, suka nggak dapat tempat dan kalau begitu sih terpaksa bungkus makanan.

Aku jarang ke sini. Aku dulu masih masuk mahasiswi pemalu. Ke sini biasanya bareng teman-teman. Tapi sayangnya teman-teman kosanku kurang menjadikan menu ini pilihan. Jika pun ingin banget maka aku membungkusnya.

Tapi alasan utama aku jarang beli makanan ini karena memang dulu aku jarang sekali makan di luar. Uang bulanan dari orang tuaku tidak banyak, sering tak bersisa untuk fotokopi ini itu. Dulu hampir tiap hari masak sendiri untuk mencukup-cukupkannya, kadang-kadang malah puasa, agar akhir pekan bisa pulang kampung dan berharap dapat tambahan uang bulanan. Huuhu dulu rajin puasa karena tak punya uang. Kalau ingat itu jadi tertawa sendiri.

Kadang-kadang ada rejeki. Misalnya ditraktir teman. Atau rejeki lainnya yaitu dapat duit dari uang les-lesan. Jarang sih waktu itu ngasih les, karena jadwal kuliah juga padat. Dulu aku beberapa kali dapatnya ngasih les kimia.

Nah jika dapat rejeki kuarahkan ke kedai tersebut. Ayo-ayolah kubujuk mereka yang mau nraktir. Di situ ada menu penyetan dari tempe, ikan pari, ayam, lele, ati ampela, dan bandeng. Duh semuanya enak. Selain ayam, semuanya kusuka. Kebalikan dengan mayoritas teman-teman yang paling suka dengan ayam penyet.

Menu favoritku adalah ikan pari penyet. Dulu harganya Rp1.200,-. Seingatku dengan Rp1.500,- sudah lengkap dengan minumannya.

Aku jarang makan ikan pari dulu. Ibu dulu sangat jarang memasaknya karena bahan ini juga jarang dijual di tukang sayur. Dulu ibu suka sekali memasaknya dengan santan dan bumbu lainnya seperti lodeh. Tapi digoreng aja dan disantap dengan sambal itu juga nikmat.

Ketika menyantap makanan ini aku seperti merasakan secuil nuansa rumah. Aku yang kadang-kadang masih suka homesick kala itu, mengingat rumah dan ibu dengan menu ini.

Menyantap ikan pari penyet seperti berada di surga kecil. Lupakan sementara tugas-tugas pemrograman dan lainnya, aku ingin menyesapi kelezatan makanan ini. Moment of peace.

~ oleh dewipuspasari pada November 17, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: