“Gods of Molenbeek”, Sebuah Kisah Persahabatan Dua Anak

Goda of molenbeek
Dua anak itu masih berusia enam tahun. Ia adalah Aatos dan Amine. Keduanya beda agama. Aatos suka membaca tentang dewa-dewa. Ia berpikir tentang dewa Yunani dan mencoba berdandan ala Poseidon, sambil bertanya-tanya apakah ia dewa terkuat. Ia lalu bertanya tentang Tuhan di dalam agama kawannya. Kisah persahabatan dalam kemasan dokumenter ini tersaji dalam film “Gods of Molenbeek”.

Aatos lalu bercerita tentang dewa-dewa Finlandia, termasuk elang yang dibacanya sebagai salah satu dewa Finlandia. Dengan kepolosan khas anak-anak, keduanya kemudian mengobrol tentang Tuhan, kehidupan setelah mati, dan dewa-dewa. Berbeda dengan Aatos dan Amine, temannya, Flo menganggap Tuhan itu tak ada.

Meski masing-masing berpendapat berbeda, ketiga anak itu tetap berteman. Aatos menunjukkan sebuah permadani mungil ke Amine dan bercerita dengan karpet itu keduanya bakal bisa terbang. Keduanya lalu bermain dengan karpet.



Kepolosan dan persahabatan dua anak-anak itu teruji ketika terjadi bom yang meledak di sebuah stasiun metro. Daerah mereka yang terletak di kota kecil di Belgia lalu dikenal sebagai pusat basis teroris di Eropa.

Film dokumenter ini relatif datar dan alurnya agak lambat. Kamera menyoroti lebih ke kegiatan Aatos dari pendapatnya tentang buku tentang elang, dewa-dewa, dan ketika ia berbelanja kain biru untuk berpura-pura jadi dewa laut.

Gods of molenbeek
Aatos yang merupakan keturunan Finlandia-Chili ini anaknya polos dan keingintahuannya besar. Kehidupannya sebagai anak-anak di daerah Molenbeek nyaman dan tidak terbebani, kecuali kemudian ia menjumpai banyak tentara berjaga.

Film dokumenter ini dibesut oleh Reetta Huhtanen. Ia memiliki pesan bahwa anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka bersahabat tanpa dipisahkan oleh perbedaan agama dan suku-ras. Dan lihatlah mereka bahagia dan bisa tertawa bersama ketika mereka tak bermasalah dengan perbedaan tersebut.

Film ini menjadi salah satu film yang tayang di Europe on Screen. Ia mulai tayang hari ini. Filmnya bisa Kalian saksikan secara daring di Festival Scope hingga Jumat mendatang. Ada sekitar 40-an film yang tayang di ajang festival ini yang digelar hingga 30 November.

Gambar dari tondwoski films

~ oleh dewipuspasari pada November 18, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: