Selamat Ulang Tahun Kota Malang

Candi badut
Kami semua waktu itu mengenakan atasan kebaya dan kostum lainnya yang bernuansa jadul. Kami meramaikan perayaan ulang tahun kota Malang. Ada acara Malang Tempoe Doeloe untuk merayakannya waktu itu.

Dulu sebelum pandemi, biasanya ada beragam kegiatan meramaikan peringatan hari jadi kota kampung halamanku. Seingatku selain diadakan Malang Tempoe Doeloe juga dihelat pemutaran film ala layar tancap yang merupakan bagian Festival Film Kota Malang. Di acara tersebut juga ditampilkan film-film pendek buatan sineas kota Malang.

Tapi entah bagaimana dengan perayaan tahun ini? Apakah proyek boulevard untuk kota tuanya yang konon beranggaran besar sudah jadi?

Kampung halamanku ini telah berganti wujud. Ia telah tumbuh sebagai kota pendidikan dan kota wisata yang padat penduduk. Namun aku tak tahu seperti apa visi pemimpin kotaku? Apakah lahan hijau akan terus semakin tergerus untuk perumahan dan pusat-pusat bisnis ini itu?

Jalanan di kota Malang sempit-sempit. Sementara pemilih kendaraan roda dua dan roda empat terus naik. Jika tidak ada anjuran naik kendaraan umum dan lainnya maka suatu ketika macetnya akan tak terperi.

Kini hujan sebentar bisa bikin air menggenang, termasuk jalan-jalan utama. Drainase sudah jadi masalah bertahun-tahun, yang sepatutnya segera ditangani agar tak semakin parah.

Dulu Malang adalah kota hujan dengan kabut yang senantiasa membayang pada pagi hari. Kami masih suka mengenakan jaket berangkat ke sekolah pagi hari. Tapi aku sering kegerahan pada malam hari selama satu sebulan lebih di Malang kemarin.

Alun alun malang

Malang akan lebih cantik dan udaranya bisa kembali segar bila lahan hijau diperluas. Jalanan ditumbuhi pepohonan rindang.

Bagaimana dengan wisatanya? Akan lebih baik bila mulai dipikirkan wisata dengan berbasiskan alam dan kesinambungan ekosistemnya. Jangan hanya tergiur dengan pundi uang dari wisatawan. Dampak wisatawan ke tingkat stress warga lokal juga perlu diperhatikan. Jangan sampai wisatawan membludak namun malah menyusahkan warga lokalnya.

Di beberapa daerah kini mulai dilakukan pembatasan wisatawan. Wisatawan yang akan berkunjung ke pantai atau gunung diminta mendaftar terlebih dulu. Jumlahnya juga dibatasi pada periode tertentu. Hal ini akan menguntungkan bagi masa depan obyek wisata tersebut, jangan sampai wisata obyek alam rusak karena dieksploitasi melulu. Yang rugi nanti juga warga situ dan anak cucu.

Aku cinta kampung halamanku. Ada kalanya aku ingin memutar waktu ketika Malang masih sejuk dan berkabut. Ah nyamannya kala itu. Berjalan kaki ke sekolah pun tak masalah saat itu.


Selamat ulang tahun kota Malang.

~ oleh dewipuspasari pada April 1, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
<span>%d</span> blogger menyukai ini: