Cerita Mak Mungil dari Realitas Lain

Mak mungil dan cindil
Mak Mungil, induk dari Cindil, bercerita kepadaku. Ia pernah bertemu dengan kembarannya, yang ngaku juga bernama Mungil. Ia juga punya anak bernama Cindil. Majikannya juga ciri-cirinya mirip denganku. Nah, cerita Mak Mungil ini lebih menarik daripada Mak Mungil yang ada bersamaku saat ini.

Mak Mungil seperti cerita Cindil kapan hari, terbawa naik kapal saat terhanyut oleh aroma makanan. Ia diadopsi dan dijadikan ikon oleh koki kapal.

Ketika si koki pensiun tak lama kemudian, si Mak Mungil juga dibawa serta ke kampung halamannya di Wakatobi. Rumahnya di dekat laut.

Suatu ketika harta benda si koki menyusut karena anak-anaknya malas bekerja. Jatah makan Mak Mungil pun jadi ikut menyusut.

Mak Mungil lalu diajari memancing oleh si koki. Cukup lama belajar memegang tali pancing dan memasang umpannya. memancing, Mak Mungil juga belajar memasak ikan tanpa api. Ia tak begitu suka ikan mentah.

Mak Mungil kucing yang cerdik akhirnya ia bisa memancing. Tukang koki memberinya bak mandi bekas yang digunakannya untuk menaruh ikan tangkapannya jika cukup banyak.

Hingga suatu ketika Mak Mungil berjumpa dengan kucing gagah yang baru turun dari kapal nelayan. Ia kucing putih besar. Singkat kata keduanya jatuh cinta. Tapi si kucing putih itu tak lama tinggal di desa Mak Mungil, ia akan kembali berlayar.

Hari itu terakhir kalinya Mak Mungil melihatnya. Si kucing putih tak pernah kembali.

Mak mungil
Sementara perut Mak Mungil makin menonjol. Ia makin susah mengail. Inginnya tiduran dan makan banyak. Pada bulan kesekian, lahirlah si Cindil dan adiknya.

Hidup Mak Mungil makin berat sebagai single parent. Ia harus sering-sering menyusui anaknya, tapi juga harus tetap mencari ikan.

Suatu ketika Mak Mungil menengok baknya dan tak ada satu ekorpun ikan di sana. Entah apakah memang sudah habis atau ada yang mencuri. Sedangkan ia lagi malas mengail.

Akhirnya ia mencuri ikan di TPI.

Hanya seekor tongkol kecil yang didapat. Tapi banyak pukulan ia terima.

Mak Mungil berlari ketakutan. Pukulan itu menyakitkan. Ia menyantap makanannya dengan cepat lalu menyusui kedua anaknya.

Sejak itu Mak Mungil kapok mencuri ikan.

Ia pun kembali mengail. Sisa tangkapannya ditaruhnya dalam bak. Kini ia menaruh baknya hati-hati agar ikannya aman. Beberapa ikan ia keringkan untuk persediaan makanan. Beberapa lainnya ia jual ke kucing-kucing kaya yang menemani majikannya plesiran ke pantai.

Hidup Mak Mungil makin berat. Ia membuat gendongan di punggungnya untuk kedua anaknya agar ia bisa membawanya kemana-mana. Naas adik Cindil nampaknya kurang gizi dan kelelahan. Ia meninggalkan dunia. Si Mak Mungil nampak begitu sedih.

Si Cindil lalu menjadi buah didikannya yang keras. Ia diajarinya mengail dan mengeringkan ikan. Si Cindil suka mengenakan topi caping, warisan dari ayahnya.

Sudah hal yang wajar di desa itu hewan-hewan juga suka mengail. Pendatang atau pelancong suka takjub melihat ada kucing bisa mengail.

Mak Mungil kadang-kadang dapat hadiah dari pelancong yang kegirangan melihat kucing abu-abu putih pandai memancing. Hadiah berupa ikan kemasan itu disantapnya berdua dengan si Cindil.

Mak mungil dan cindil
Jika musim hujan maka hari-hari Mak Mungil dan Cindil makin berat. Mereka takut air hujan. Mereka tak bisa memancing dan mengandalkan ikan kering mereka.

Coba seandainya ia punya majikan, keluh Mak Mungil.

Cindil sudah remaja. Ia sudah gesit menangkap tikus dan ikan. Bila ikan sulit didapat, mereka terpaksa menyantap tikus.

Mak Mungil lalu bertemu kucing tampan. Ia berwarna belang hijau hitam. Tapi kucing itu ternyata hidung belang. Mak Mungil sedih diselingkuhinnya dan keduanya pun bercerai.

Padahal sudah ada bayi di perut Mak Mungil. Ada tiga bayi kucing yang kemudian lahir.

Cindil pun bertugas merawat induknya, mengajak main adiknya dan juga mengail. Ia terus memikirkan kata-kata ibunya untuk mencari majikan dan juga bertualang.

Singkat kata akhirnya si Cindil tiba di Jakarta dan punya majikan. Ia mengirim surat ke Mak Mungil. Hampir sebulan kemudian baru Mak Mungil dan adik-adiknya bisa bergabung dengannya.

Kini Mak Mungil dan anak-anaknya hidup nyaman. Ia tak lagi perlu mengail ikan agar bisa makan kenyang.

Mak Mungil

~ oleh dewipuspasari pada April 28, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: