Buku Tentang Horor Indonesia 70-80an

Buku horor

Belakangan ini aku suka membaca buku-buku tentang perfilman. Tidak begitu banyak, salah satu penyumbang besarnya adalah Pusat Data dan Analisa Tempo. Mereka memiliki buku berjudul “Seri 01: Sejarah Film Horor Tempo Doeloe Indonesia yang dirilis tahun 2019.

Total sembilan artikel yang terhimpun dalam satu buku ini. Kesembilan artikel tersebut berasal dari artikel-artikel antara rentang tahun 70an hingga sekitar tahun 1983. Yaitu:
1. Ibu Tiri Shariefuddin
2. Horor Bakul Jamu
3. “Mendidik Diri Sendiri”
4. Pak Cokro dan Cerita Detektif
5. Mistik dan Seram Disukai
6. Soal Ilham dari Seberang
7. Tiga Sutradara Tiga Gaya
8. Tangan-Tangan yang Menyampaikan Sejarah: Bisa Jujurkah Film Sejarah Kita?
9. Sudah Jatuh Ditimpa Video

Artikel pertama membahas tentang kekejaman ibu tiri terhadap putri tirinya.
Judul filmnya adalah “Lisa”. Ibu tiri (Rahayu Effendi) hendak membunuh anak suaminya, Lisa (Lenny Marlina).
Karena merupakan penghalang hubungannya dengan supir Harun (Sophan Sophiaan). Yang tak diketahuinya, Harun rupanya ayah bayi Lisa.

Singkat cerita Lisa pun meninggal. Tapi meninggalnya hanyalah pura-pura lewat siasat dokter yang kasihan kepadanya. Ketakutan lihat sosok Lisa, ibu tiri yang jahat itu sakit, lalu kemudian terjun ke jurang.

Dalam artikel ini film ini panen kritikan. Skenarionya dianggap buruk dan tokohnya tidak meyakinkan. Lalu ceritanya dirasa kurang logis, mana bisa orang sakit yang berkursi roda berlari ke jurang. Sutradara film ini M. Shariefuddin dan produsernya adalah Tuty Jaya Pictures.

Dalam artikel kedua, “Horor Bakul Jamu” diceritakan nasib malang tukang jamu cantik yang mengalami perkosaan. “Dikejar Dosa”, judulnya.

Yayah (Paula Roemokoy), diperkosa oleh jagoan pasar Jajang (Yan Bastian), Jaka (Hendra Cipta), dan Asep (Ucok Harahap). Naasnya, Yayah kemudian diperkosa juga oleh kekasihnya, Dayat (Fadli).

Ibu Yayah kemudian meninggal karena malu dan sedih. Yayah lalu hilang ingatan. Ia kemudian dibunuh oleh Asep.

Yayah baik ketika masih gila dan meninggal meneror ketiganya. Dayat juga dihantuinya dan ia gila. Ia lalu terjun dari jembatan. Semua yang berdosa dibalas, termasuk Dayat yang di luar dosanya tersebut, ia pemuda yang baik.

Di luar sisi minusnya, film ini mendapat pujian sebagai salah satu horor yang menyeramkan. Sutradara Lukman Hakim Nain yang juga juru kamera terbaik Indonesia berhasil menampilkan gambar-gambar yang mengerikan. Rekannya, Wim Umboh, berperan jadi editornya.

Dalam artikel kelima berjudul “Mistik dan Seram Disukai”, dibahas tentang jumlah penonton beberapa film horor. Di antaranya sebagai berikut:
a. “Sundel Bolong” 300rb
b. “Pengabdi Setan” 102 rb
c. “Ratu Pantai Selatan” 150 rb
d. “Kutukan Nyai Roro Kidul” 120 rb

Lalu berdasarkan data, dari 67 film yang diputar sampai awal November 1982, sedikitnya ada10 horor. Menurut Direktur PT Rapi Film, Gobind Samtani, film horor itu memiliki pemasaran yang bagus. Penonton di negara Malaysia, Brunei, dan Singapura juga menyukainya.

Umumnya film seram berbau mistik yang diangkat dari legenda sebuah daerah yang laris. “Sundel Bolong”, misalnya, laris di Jatim.

Artikelnya bernas dan gaya bahasanya menarik untuk dibaca. Sayangnya keenam artikel lainnya pembahasannya lain, tidak berada dalam satu tema horor, sehingga terasa kurang tematik.

Jarang-jarang ada buku yang mengupas tentang kondisi perfilman nasional, sehingga kehadiran buku ini mampu menambah wawasan.

~ oleh dewipuspasari pada Juni 10, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: