Kenapa Si Nero Jadi Sering Kelahi

Duuhhh Nero datang pagi itu dengan kondisi mengenaskan. Ia kalah berkelahi dengan si Blekok, kucing hitam besar yang jelek itu. Wajah Nero nampak berubah karena banyak bulunya yang rontok dan hilang. Ada bekas cakaran dan luka di wajahnya. Aduuuh, ekornya luka dan darahnya bertetesan di lantai.
Neroku, kucing jantang kesayanganku yang kurawat sejak lahir. Ia dulu kucing yang memesona dengan warnanya yang kuning kecokelatan,. Kucing berwarna keemasan satu-satunya di satu RT. Tak heran jika ia cukup beken di kalangan tetangga.

Ia kucing yang ramah dan penyayang. Jika makanannya masih tersisa banyak, ia pun mengajak teman-temannya mampir. Seringkali ia juga berbagi tempat tidur di alas kaki maupun kardusnya. Dia kuanggap kucing persahabatan.
Bulan depan Nero genap berusia dua tahun. Jika dulunya ia sering sembunyi dari Blekok untuk menghindari perkelahian, ia kini tak takut. Padahal ia masih terhitung remaja. Seringkali ia kalah dan jika gusar maka ia pun menantang berkelahi si Momo, kucing jantan hitam yang dulu sahabat baiknya.

Sulitnya memperban ekor kucing. Ia terus bergerak-gerak. Dua kali kuperban dan beberapa saat kemudian pun copot. Lukanya kembali terbuka.
Pagi ini ia habis berkelahi lagi. Ia memang tak suka dikurung di rumah dan setiap dini hari pun berjalan-jalan. Ketika Ovi hendak berangkat kerja, ia menangis mencariku. Aku pun mengelusnya dan membiarkannya tidur pulas di dekatku. Duh Nero kucing kesayanganku, jangan suka berkelahi ya.

