
Oh belakangan ini Jakarta begitu gerahnya, baik pagi, siang, ataupun malam. Aku sampai harus mandi menjelang tidur malam agar bisa terlelap. Selain gerah, ancaman gigitan nyamuk juga membesar. Sepertinya mereka gembira beranak pinak di musim yang gerah dan lembab. Gara-gara hawa yang kurang nyaman ini aku jadi makin suka ke taman.
Ya, di taman ada banyak pepohonan rindang. Hawanya juga segar. Cuma kadang-kadang di taman sulit menghindari ancaman nyamuk, apalagi taman yang ada kolamnya.
Apabila ke taman, aku suka memperhatikan aneka satwa dan tanaman khas taman tersebut. Banyak taman di Jakarta menggunakan nama pepohonan yang ditanam di taman itu, meski jumlahnya ada yang hanya satu. Sebut saja Taman Kopi, Taman Tabebuya, dan Taman Kiara Payung.
Nah, ketika menikmati hawa segar di Ruang Limpah Sungai Pondok Ranggon dan Taman Tabebuya, aku menjumpai bunga bakung putih. Aku langsung melonjak gembira dan menghampiri bunga ini.
Ini semua berawal dari buku dongeng Enid Blyton, entah apa judulnya. Aku lupa. Yang kuingat hanya ceritanya. Konon pada bunga bakung putih, para peri suka menaruh sepatunya.
Bunga bakung tak secantik bunga mawar. Tapi, ia punya daya tarik khas. Dengan dedaunan mirip ilalang tumbuh bunga yang putih, kemudian ia merekah dengan surainya.

Ooh waktu kecil aku seperti percaya cerita ini. Aku dan kakak langsung melonjak penuh semangat mengamati bunga bakung putih. Ingin sekali rasanya menemukan sepatu peri yang hanya ada pada pagi hari. Sebenarnya aku lebih suka bunga bakung yang masih kuncup, tapi jarang sekali. Siapa tahu jika kuncupnya kubuka, tampaklah sepatu peri.
Tentu saja setelah dewasa aku tak lagi mempercayai dongeng ini. Namun entah kenapa aku ingat memori ini. Aku dan kakak berjalan-jalan berdua melakukan hal-hal konyol seperti ini. Itu kenangan manis.
Ah hawa gerahnya. Aku sampai terbangun pukul tiga.




