
Dulu aku pandai menahan emosi. Aku bisa menutupi marah, sedih, atau apapun itu dengan senyuman lebar atau kecil. Bahkan, aku juga mudah membiarkan diriku bersikap datar tanpa ekspresi. Namun, setelah menua aku makin sulit menutupi emosi. Bahkan, aku bisa menangis saat menonton film-film tentang satwa yang sedih. Hanya tangisan itu lirih.
Lanjutkan membaca ‘Menangis Lirih di Bioskop’



