
“Saturday Night tidak hanya menyeretku ke masa lampau, namun juga membuatku melihat dunia sekeliling dengan cara berbeda.”
Lanjutkan membaca ‘“Saturday Night” dan Sekeliling yang Jadi Sinematik’

“Saturday Night tidak hanya menyeretku ke masa lampau, namun juga membuatku melihat dunia sekeliling dengan cara berbeda.”
Lanjutkan membaca ‘“Saturday Night” dan Sekeliling yang Jadi Sinematik’
Depot jamu ini cantik dan tempatnya nyaman. Ketika aku datang dan memesan, aku langsung ditanya keluhan kesehatan. Eh aku bengong karena tujuanku sebenarnya malah membeli bubur hehehhe.
Lanjutkan membaca ‘Jamu’
Hari ini peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke-118. Sudah sejak beberapa hari yang lalu aku pusing sendiri, pakai baju daerah mana ya? Bagaimana berangkat ke Museum Kebangkitan Nasional ya?
Lanjutkan membaca ‘Merasai Upacara Hari Kebangkitan Nasional’
Dulu aku pandai menahan emosi. Aku bisa menutupi marah, sedih, atau apapun itu dengan senyuman lebar atau kecil. Bahkan, aku juga mudah membiarkan diriku bersikap datar tanpa ekspresi. Namun, setelah menua aku makin sulit menutupi emosi. Bahkan, aku bisa menangis saat menonton film-film tentang satwa yang sedih. Hanya tangisan itu lirih.
Lanjutkan membaca ‘Menangis Lirih di Bioskop’
Penampilan nasi goreng itu begitu sederhana. Hanya nasi yang digoreng kecokelatan dan telur dadar yang dicetak bundar. Namun, ketika aku menyendoknya dan mengunyahnya, indera perasaku bersuka cita. Nasgornya sungguh sedap. Rasanya tak sesederhana penampilannya.
Lanjutkan membaca ‘Nasgor Sederhana’