Kucing Bersama
Tetanggaku dan putrinya menangis sedih ketika aku bercerita kucingku Opal telah kumakamkan Minggu malam silam. Aku dan tetanggaku berjumpa di acara pertemuan warga. Mengapa tidak segera memberitahu, kami pikir Opal masih dirawat? Ya, kenapa aku tidak segera memberitahu mereka. Aku tidak bisa. Karena aku masih menangis sedih setiap kali berbicara dan teringat akan Opal. Ia kucing kami bersama.
Kami kemudian saling bertukar foto-foto tentang Opal. Aku memberikan foto Opal waktu masih sebulanan ketika ia tidur bareng kedua saudaranya. Aku juga menunjukkan foto Opal yang menggemaskan ketika ia tidur di bantal kucing.
Aku lalu menunjukkan foto-foto Opal ketika ia sakit dan saat kondisinya kritis. Saat itu Sabtu malam. Opal tiba-tiba sesak nafas. Klinik sudah tutup. Aku terus membersihkan hidung dan matanya. Hidungnya kotor dan matanya basah. Saat itu aku begadang menjaganya. Mengelusnya dan membuat ia merasa nyaman.
Saat itu dalam hati kecilku, aku sebenarnya tahu waktu Opal sudah tidak banyak di dunia. Hanya, aku berharap ada keajaiban dan pertolongan, sehingga ia bisa sembuh.
Saat menjemput Opal yang telah tak bernyawa di klinik petang hari setelah paginya dirawat inap di sana, aku merasa lunglai. Tubuh Opal yang sudah dibalut kain terasa kaku dan berat kugendong di lengan.
Aku sengaja berjalan kaki dengan payung di bawah hujan menuju dan kembali ke klinik. Aku ingin punya waktu berdua saja, untuk menyampaikan salam perpisahan untuknya. Andaikata tangisku pecah, isakan itu juga akan teredam oleh bunyi hujan.
Opal telah kumakamkan di halaman rumah. Makamnya berdekatan dengan si Petualang dan si Mungil, keponakan, dan induknya. Opal sudah tak sakit dan ia mungkin kini ia sedang berlarian di surga bersama si Mungil dan Petualang.
Tetanggaku kemudian mengirimkan foto-foto Opal saat singgah di halaman dan ketika ia digendong oleh putrinya. Opal suka sekali tidur santai di teras rumahnya. Kadang-kadang ia juga tidur di atas motor putrinya. Putrinya sangat menyayanginya. Ia suka memberikan camilan untuk Opal. Ia menyebutnya Sapi karena ia memang gendut menggemaskan.
Opal bukan satu-satunya kucing kami bersama. Dulu ada si Mungil, yang merupakan induk si Opal. Ketika ayahku sakit dan aku pulang ke Malang, si Mungil yang kesepian suka main ke rumah tetanggaku. Akhirnya aku titipkan ke mereka. Mereka menyayangi si Mungil seperti kucing mereka sendiri. Mereka memberi nama si Juki.
Kini si Mungil dan Opal telah pergi. Apabila teringat mereka, kami sama-sama masih sedih. Tapi pasti mereka lebih bahagia di alam sana karena mereka sudah tak lagi menderita kesakitan. Kehidupan juga terus berjalan.
Masih ada enam kucing lainnya yang perlu perhatian. Masih ada Pang, Cindil, Samsudin, Clara, Nero Manis, dan Singka yang juga perlu kasih sayang. Siapa tahu mereka juga akan menjadi kucing kami bersama.
