Haduh, Aku Di-follow Joko Pinurbo yang Kaya Puisi Kocak
Kemarin aku absen menulis di blog ini. Aku sibuk menyusun sesuatu sampai dini hari sehingga terlewat. Aku ingin cerita kali ini tentang salah satu karya Joko Pinurbo.
Sejak menyaksikan aksi baca puisi Joko Pinurbo di Festival Seni Surabaya, aku jadi suka berpuisi. Meski ya puisiku bukan jenis puisi yang kaya bahasa bunga dan diksi yang menawan. Aku suka gaya puisi dengan bahasa lugas dengan pesan mengena seperti karya-karya puisi almarhum Joko Pinurbo yang akrab disapa Jokpin. Salah satu buku yang kutemukan di iPusnas iJakarta karya Jokpin baru-baru ini berjudul Haduh, Aku Di-follow.
Sampul buku ini berwarna-warni ala pelangi dengan kolam atau samudera serta seekor burung yang melambangkan Twitter atau X. Di sini Jokpin membuat pultwit atau puisi twitter dengan bahasa lugas dan pesan yang makjleb.
Pultwit ini bisa dibaca sesuai kronologis waktu di Twitter atau sesuai tema berdasarkan indeks. Ada sekitar 300-an pultwit antara Januari sampai Agustus dengan bulan Agustus waktu terproduktif dengan 76 pultwit.
Ada banyak pultwitnya yang kusuka dan kusimpan. Beberapa di antaranya membuatku tertawa, lainnya membuatku tertegun dan makjleb.
Buku ini kaya ilustrasi. Ilustrasi ini dibuat Rip Tupai dengan menawan, baik gambar maupun pilihan plus kombinasi warnanya. Tentunya tak mudah membuat ilustrasi sebagai latar dan agar pesan Jokpin lebih masuk.
Bagi mereka yang freelance, termasuk blogger harian seperti, ada puktwit yang mengena:
“Tak ada lagi Minggu dalam diriku.
Seluruh tubuhku sudah jadi hari kerja dan hari bicara.“
Bagi mereka yang insomnia juga ada pesan yang menohok: “Insomnia itu artinya malas tidur”
Di pultwit lainnya, Jokpin berpuisi. Bagi yang pernah insomnia duh rasanya gimana gitu.
“Saya sedang ujian insomnia
Tidur saya terdiri atas tiga bagian:
Persiapan tidur
Percobaan tidur
dan tidak jadi tidur”
Sebenarnya Jokpin juga pandai dan piawai memilah milih diksi yang apik dan simbolik. Dalam puisi tentang ibu, hujan, dan senja, alih-alih menggunakan kata-kata yang sederhana, ia menggunakan bahasa langit yang multiintepretasi.
Dalam puisi hujan kali ini, ia menggunakan majas personifikasi:
“Mau apa lagi malam-malam kau keluyuran, hujan?
Mau menemani adik-adik penyair belajar menuliskan aku.”
Bagi yang kecanduan menggunakan telpon genggam maka bisa baca pultwit berikut:
“Sudah lama telpon genggam saya menggenggam tangan saya. Genggamannya lebih kuat dari genggaman saya padanya.”
Dalam buku ini juga ada ucapan selamat dan puisi untuk eyang Sapardi dan Goenawan Muhammad. Juga banyak puisi yang banyak jadi kutipan.
“Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.”
Ah membaca buku ini terasa menyenangkan. Aku jadi suka berpuisi. Membuat puisi tak lagi menakutkan dan membebani. Memang sih aku masih seorang pembuat puisi amatir dan mungkin seterusnya seperti itu.
“Selamanya saya penyair amatir
Gaji saya bahkan tak cukup untuk membiayai kesibukan melamun saya. “
Puisi Twitter lainnya yang apik:
“Aku menulis supaya tidak gila.
Hasilnya? Kamu yang nulis, aku yang gila.”
“Haduh, aku di-follow @ini_ibu
Aku harus gimana ini, Twips.”
“Twitter saya merasa aman karena banyak Pak RT dan Bu RT.”
“Tuhan, doaku kusampaikan lewat DM saja, ya #doamalam”
“Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.
Ngetwit dulu, ngilang kemudian.”
“Apapun makananmu Jakarta,
minumanmu tetap saja banjir perkasa.”
Oh iya Jokpin juga masih suka membuat puisi tentang celana di buku ini. Ehm bapak penyair ini sekiranya bisa disebut bapak penyair celana.
Detail Buku:
Judul Buku: Haduh, Aku Di-follow
Penulis: Joko Pinurbo
Ilustrasi: Rio Tupai
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal Buku: 122 halaman
Tahun Terbit: 2013
Skor: 8/10
