Absen Menulis dan Aksara Lampung
Beberapa hari lalu aku absen menulis, baik di blog pribadi ini maupun di Kompasiana. Ada sesuatu yang membuatku lelah dari fisik dan pikiran hingga sulit untuk menulis apapun. Kini aku mulai menulis lagi, yang ringan saja. Bahasan kali ini seputar aksara Lampung.
Ketika mengunjungi museum-museum di berbagai daerah, ada beberapa bagian yang kusuka. Di antaranya adalah koleksi tentang naskah kuno dan aksara setempat.
Naskah kuno tersebut ada yang ditulis di daun lontar. Ada yang isinya gambar-gambar, ada juga yang isinya tulisan berbentuk aksara yang sulit kubaca. Ya aksara di Indonesia begitu beragam, tak hanya aksara Latin, Arab, Jawa, dan Pallawa. Namun ada berbagai jenis aksara lainnya yang menarik, dengan latar belakang sejarah yang juga tak kalah menarik.
Nah di Museum Lampung aku menjumpai aksara Lampung yang bentuknya ada beberapa yang mirip dengan aksara Latin, Arab, dan Jawa dengan cara membaca yang berbeda. Tapi ternyata dugaanku tidak sepenuhnya benar.
Dari membaca deskripsi yang ada di museum tersebut, rupanya aksara Lampung memiliki riwayat yang unik karena merupakan percampuran antara aksara Pallawa dari India yang disebarkan Kerajaan Sriwijaya dan aksara Arab yang tersebar dari Aceh. Jumlah aksara utamanya ada 20 buah, juga ada tanda baca dan diakritik. Aksara Lampung ini juga disebut rumpun aksara kaganga atau aksara Sumatera Selatan, satu rumpun dengan aksara Bengkulu.
Ini menarik karena ternyata juga ada yang membandingkan dengan aksara Kawi. Rupanya ada yang menganggap aksara keduanya berkaitan, hanya aksara Lampung dirasa lebih sederhana daripada aksara Kawi karena tanda bacanya tidak banyak.
Wah aku penasaran bagaimana cara membaca dan menulisnya. Lantas apa ya makna dari tiap kata yang tersusun dari aksara tersebut?
