Mencicipi Nasi Kandar di KL Sentral

Dalam satu piring besar diletakkan nasi berwarna-warni yang cantik. Kemudian ada tumis cabe hijau. Serta, daging domba dengan bumbu kari yang pekat. Aku bersorak. Perpaduan warna yang indah, putih, kuning, merah, hijau, dan cokelat. Sepertinya masakannya sedap. Nama masakannya adalah nasi kandarBeberapa waktu lalu nama nasi kandar meroket. Entah bagaimana masakan ini sempat populer. Momen untuk mencicipinya pun tiba ketika aku melakukan perjalanan solo ke Malaysia tahun lalu.
Setelah melakukan trip singkat ke Batu Caves, aku kembali ke pusat perbelanjaan NU Sentral Mall yang juga menjadi semacam stasiun kereta dan bus. Aku lapar. Aku belum makan semalam dan juga pagi. Aku perlu makan sebelum melanjutkan perjalanan ke museum-museum dan kemudian pulang ke tanah air.


Banyak tenant yang belum dibuka. Aku sampai berkeliling beberapa kali sambil bertanya apakah sudah bisa memesan makanan. Akhirnya aku melihat gerai makanan yang sudah buka. Nasi Kandar. Tepatnya, Original Penang Kayu Nasi Kandar – NU Sentral Mall, di KL Sentral.
Aneka sayuran dan lauk dipajang, mengingatkan akan penjual nasi padang atau warteg, hanya versi lebih cantik. Ada beberapa menu yang belum matang. Aku bertanya mana saja menu yang bisa dipesan.
Akhirnya aku memesan masakan domba dan minuman seperti teh tarik alias teh O. Seingatku aku membayar sekitar Rp80 ribu jika dirupiahkan. Wajar sih selain tempatnya di mal, juga porsinya jumbo.
Masakannya nampak lezat. Aromanya juga sedap. Karinya tak semedhok karo India, lebih ringan. Disebutkan masakan nasi kandar ini diperkenalkan suku Tamil, India Selatan yang bekerja di Penang, Malaysia. Disebut nasi kandar karena dulu dijual dengan dipikul di bahu.
Adanya tumis cabe hijau menetralkan rasa sehingga tidak eneq. Dagingnya empuk dan bumbunya meresap.
Aku menikmati sesuap demi sesuap hingga perutku tak muat. Porsinya benar-benar jumbo. Sepertinya bisa untuk dua orang.

Seharusnya waktu itu aku bertanya apa boleh membawa pulang selebihnya karena sayang. Namun, alih-alih meminta membungkus, aku hanya meminta maaf karena tak bisa menghabiskannya. Duh sayang padahal enak.
Waktu aku sudah selesai makan, lauk ikan goreng sudah matang. Wah kalau aku siangan ke sini kayaknya bakal makin bingung milih menunya. Nampak enak semua.

