Para Anak Kucing Malang

Perasaanku belakangan tak enak. Jantungku berdegup lebih kencang. Seperti ada yang sesuatu tak enak akan terjadi, aku pun mencoba memeriksanya. Rupanya perasaanku berhubungan dengan para anak kucing yang malang.

Kuhitung awalnya ada tujuh ekor anak kucing. Empat kucing oren. Lainnya belang dan hitam. Mereka kurus-kurus. Ketika menyusu induknya, si kucing cerewet, sering ada yang tak kebagian. Kasihan. 

Kuberikan kardus, alas, air minum, dan makanan di halaman buat mereka. Namun sayangnya ketika aku kembali dari kampung halaman, mereka tinggal lima ekor dan mata mereka mulai sakit. Ketika aku pergi dan kembali lagi mereka tinggal empat ekor. Semuanya oren. Mata mereka sakit. 

Setiap hari, dua kali sehari kubersihkan mata mereka dan kuobati. Wajah mereka juga kubersihkan. Namun, induk mereka sering memindah-mindahkan mereka sehingga mereka makin kuyu. Yang membuatku sedih mereka sering terlihat duduk termangu di bawah pagar sambil menatap jauh. Ooh apa yang dipikirkan anak-anak kucing itu. 

Hanya tertinggal tiga anak kucing kemudian. Yang satu ekor lainnya entah kemana. Aku mencarinya ke selokan dan di jalanan tak terlihat. Ketiganya kurus sekali sehingga sering kuberikan makanan enak yang kiranya mereka bakal suka. 

Namun seekor anak kucing kemudian kutemukan sekarat dekat bawah pagar. Tempat anak kucing suka berjemur dan melamun. 

Kutemani ia menjalani sakaratul maut. Kuucapkan doa sambil mengelusnya. Rupanya prosesnya cukup lama. Kasihan si anak kucing tersebut. 

Dua anak kucing kemudian kurawat baik-baik. Aku sering memarahi si induk yang hendak membawa kabur anak-anaknya. Sayangnya aku sering kecolongan. Si anak kucing entah kemana. Sementara satu yang awalnya paling sehat mulai terlihat lemas. 

Aku memberinya kaldu ayam dan kusuapi makanan. Ia makin lemas hingga aku mendengar sesuatu yang bagiku adalah peringatan. 

Itu adalah tanda si kucing sedang sekarat. Aku mencarinya. Rupanya ia ada di antara tanaman di halaman. Aku segera membawanya ke dalam rumah. Kutempatkan ia di tempat yang nyaman. Kuelus sambil kubacakan doa. 

Ia nampak menderita. Berjam-jam ia menjalani sakaratul maut hingga tubuhnya kemudian kaku. Ooh aku bingung memakamkannya. Namun karena langit sebentar lagi gelap, aku harus bergegas menguburnya. 

Lagi-lagi perasaanku tak enak. Kubersihkan semua kolong sofa dan lemari dengan teliti. Ada sesuatu. Aku langsung lemas menyadari ada anak kucing yang kukira hilang ternyata ada di sana. Huuuhu kondisinya mengenaskan. Aku membersihkan, mengubur, dan membersihkan lagi lantai dengan berurai air mata. 

Hari ini aku memakamkan dua anak kucing. Tujuh anak kucing itu semua tak selamat. Aku ingin marah ke induknya. Namun ia mungkin juga menderita dan tak siap jadi induk karena ia juga dibuang tuannya ke tempat baru, lalu kemudian beranak. 

Hari ini aku merasa lelah dan lemas. 

~ oleh dewipuspasari pada Juli 13, 2025.

Tinggalkan komentar