Horor Ekologis dan Anti Antroposentrisme dalam Orang Ikan

Tebing yang terjal, licin, dan curam membuat Bronson harus berhati-hati berpijak. Karena kelelahan dan keseimbangannya goyah, ia sempat jatuh dan terseret arus sungai yang deras. Ketika akhirnya bisa sedikit bernafas lega dan merasa aman, ia mendengar suara dari makhluk yang ditakutinya. Makhluk yang buas dan tak segan-segan menghabisi korbannya itu tak jauh dari posisinya berdiri. Ia hanya bisa menjaga dirinya tetap diam tak bergerak tak bersuara, sementara degup jantungnya bergemuruh kencang. Sebagai prajurit yang ditempa kedisplinan dan kemampuan mengendalikan situasi, ia merasa gentar dengan alam liar dan kekuatan makhluk yang asing baginya ini. Horor ekologis dan ekosentrisme ini menjadi bagian yang menarik dicermati dari film Orang Ikan.
Sejak Saito dan Bronson siuman kemudian menyadari keduanya terdampar di pulau terpencil, penonton ikut digiring ke atmosfer dan suasana yang tidak nyaman. Pulau itu tidak dihuni oleh manusia. Tebingnya nampak tinggi menjulang. Vegetasinya begitu lebat, nampak sulit ditembus oleh manusia. Belum lagi deru angin yang kencang menggoyangkan pepohonan dan disambut oleh hempasan ombak laut, seperti menolak kehadiran manusia.
Lanskap alam liar ini ibarat aktor nonmanusia. Karakternya yang ganas dan sulit ditebak seolah-olah enggan tunduk ke manusia. Ia seperti kawan dari makhluk yang kemudian disebut Orang Ikan, sama-sama misterius dan memiliki kekuatan yang tak diketahui oleh manusia.
Sumber ketakutan manusia memang bukan hanya dari gangguan supranatural. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, horor adalah sesuatu yang menimbulkan rasa takut yang amat sangat. Ada kalanya sesuatu yang tidak kita ketahui menimbulkan perasaan yang tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang tidak sewajarnya, dan tidak sesuai harapan.
Horor yang memberikan atmosfer tidak nyaman dan gelisah baik kepada tokoh dalam film maupun penonton disebut uncanny horror. Istilah ini dipopulerkan oleh Sigmund Freud (1919) dalam esainya yang berjudul Das Unheimliche, yang bermakna yang menyeramkan atau yang tidak biasa.
Sumber perasaan tidak nyaman ini bukan hanya dari hantu dan makhluk supranatural, melainkan juga bisa dari makhluk yang tak dikenal, lanskap alam yang tak ramah bagi manusia, dan cuaca ekstrem. Subgenre ini kerap disebut sebagai eco-horror atau horor ekologis. Horor ini menyoroti hubungan manusia dan alam, merepresentasikan ketakutan manusia akan alam liar, terhadap tanaman dan hewan buas, juga terhadap makhluk yang tak dikenal (Christy Tidwell dan Carter Soles, 2021). Alam dan penghuninya digambarkan memiliki kekuatan misterius yang bisa mengancam atau memberikan peringatan kepada manusia.
Subgenre ini hadir dan mulai populer ketika muncul film Godzilla dan Creature from the Black Lagoon pada tahun 1954 yang menampilkan makhluk misterius yang bisa mengancam manusia. Kemudian ada serangan burung yang tiba-tiba dalam film The Birds karya Alfred Hitchcock. Disusul dengan beragam film horor lainnya dengan ancaman dari alam yang lebih beragam.
Dalam konteks Orang Ikan yang tayang di jaringan CGV secara terbatas sejak 11 Juli 2025, horor ekologis ini ditampilkan lewat perasaan tak nyaman yang hadir berkat keganasan alam di pulau terpencil dan sosok makhluk ganas yang disebut Orang Ikan. Mike Wiluan (Buffalo Boys, Losmen Melati), penulis dan sutradara film ini kuat menghadirkan atmosfer horor ekologis ini lewat mise-en-scene.
Himawan Pratista (2017) mendefinisikan mise-en-scene sebagai ‘segala hal yang terletak di depan kamera yang akan diambil gambarnya dalam sebuah produksi film’. Empat unsur utama pembentuknya adalah latar (set), kostum dan tata rias, pencahayaan, serta pemain dan pergerakannya.
Cerita Orang Ikan ini memiliki latar waktu pada saat Perang Dunia II. Adalah Saito, serdadu Jepang, yang dianggap pembelot terdampar di pulau terpencil di Samudera Pasifik bersama tawanan asal Inggris, Bronson, setelah kapalnya babak belur oleh serangan yang fatal.
Latar waktu ini cocok dengan era antroposen yang disebut sebagai masa di mana aktivitas manusia mempengaruhi bumi secara signifikan. Istilah ini dipopulerkan oleh Crutzen pada tahun 2000. Awal era antroposen sendiri tidak menemui kata kesepakatan. Ada yang menyebut sejak revolusi Industri, tapi ada juga yang menyebut sejak perang dunia, terutama ketika mulai dilakukan percobaan nuklir.
Mike Wiluan kuat menghadirkan horor psikologis ini lewat desain set yang dilakukan sebagian besar secara shot on location, diperkuat dengan pencahayaan dan pewarnaan (grading) untuk mendukung mood dan atmosfer. Sudut-sudut pulau yang sepi dan terpencil dengan medan yang terjal dan curam banyak dihadirkan untuk menunjukkan sisi alam yang liar. Ada kalanya langit nampak mendung dan mulai muncul kabut.
Warna-warna seperti abu-abu dan hijau kecokelatan banyak digunakan untuk memperkuat nuansa yang misterius, dingin, suram, dan tak nyaman. Pencahayaan di beberapa adegan menjelang akhir ditampilkan minim untuk menambah suasana suram dan tegang.
Dari sisi kostum dan tata rias yang menonjol adalah desain penampilan Orang Ikan. Alih-alih menghadirkan sosok yang lebih ‘ramah’ seperti manusia amfibi dalam The Shape of Water, Mike memilih referensi manusia ikan dalam Creature from the Black Lagoon yang lebih ganas. Siripnya nampak tajam, tubuhnya berdiri, matanya besar dan intimidatif, perawakannya tinggi dan berotot.
Makhluk ini memang terlihat buas. Ketika menyerang korban, ia juga tak segan mengoyak dan memperlakukan korbannya sesuka hati. Warna makhluk ini juga hijau kelabu untuk menggambarkan sosoknya yang misterius dan merupakan makhluk liar.
Dari segi pergerakan pemain, Mike Wiluan tidak banyak menampilkan dua aktor utama tersebut dalam satu frame. Beberapa adegan menunjukkan Saito yang terpisah dari Bronson. Ia berjuang untuk menemukan tempat aman seraya menemukan Bronson. Juga ada adegan yang menunjukkan Orang Ikan berada di tempat yang tinggi lalu berteriak menunjukkan keperkasaannya setelah menumbangkan buaya. Adegan yang menampilkan satu tokoh dalam tiap frame ini menunjukkan kegelisahan dan ketakutan yang dialami tiap tokoh sembari menunjukkan kekuatan Orang Ikan.
Mise-en-scene dalam film terutama dari sisi visual memang memberikan kontribusi besar dalam menciptakan horor ekologis dalam Orang Ikan. Gagasan horor ekologis ini selaras dengan gagasan yang menolak antroposentrisme yang juga kental terlihat dalam film ini.
Antroposentrisme yaitu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta atau manusia sentris. Kebalikannya adalah ekosentrisme dan biosentrisme yang mengagungkan nilai kehidupan setiap makhluk (J Sudriyanto, 1992).
Penolakan terhadap antroposentrisme ini terlihat pada latar belakang dua karakter yang merupakan dua serdadu terlatih. Meski sudah biasa bertempur, mereka seperti tak berdaya ketika berurusan dengan alam liar.
Ada adegan yang menampilkan Saito dan Bronson berlari dari kejaran Orang Ikan dengan menerobos serta memotong semak belukar dengan parang. Keduanya nampak susah payah untuk kabur. Mereka kemudian tersandung, tergelincir, ketika melawan dan menghindari Orang Ikan. Mereka seperti anak-anak rapuh melawan orang dewasa yang kuat.
Meski kemudian digambarkan tokoh manusia yaitu Saito menang ketika duel satu lawan satu melawan Orang Ikan, tetapi rupanya Saito kalah dalam menjaga moral dan etikanya. Ia berbalik menjadi sosok monster yang dibencinya dengan meledakkan bayi Orang Ikan yang tak berdaya.
Orang Ikan yang diproduksi oleh Infinite Studios, Gorylah Pictures, dan Zhao Wei Films (Singapura) merupakan film yang kuat dalam menyusun atmosfer horor ekologis lewat mise-en-scene dan unsur narasi yang kuat. Film ini juga menunjukkan penolakan terhadap pandangan antroposentrisme, yaitu manusia tak ada apa-apanya dibandingkan alam liar.
Referensi:
Ajani, Asia. 2022. The Evolution of Eco Horror. [https://atmos.earth/the-evolution-of-eco-horror-jordan-peele-halloween/]. Diakses 21 Juli 2025
Dinas Lingkungan Hidup. 2018. Teori-teori Lingkungan Hidup. [https://dlh.slemankab.go.id/teori-teori-lingkungan-hidup/].Diakses 21 Juli 2025.
Freud, Sigmund. 1919. The Uncanny (Das Unheimliche)
Pavid, Katie. What is the Anthropocene and why does it matter. [https://www.nhm.ac.uk/discover/what-is-the-anthropocene.html]. Diakses 21 Juli 2025.
Pratista, Himawan. 2017. Memahami Film Edisi Kedua. Montase Press.
Tidwell, Christy dan Carter Soles. 2021. Fear and Nature: Ecohorror Studies in the Anthropocene
