Playlist Hujan dan Saga dari Samudera

Titik-titik gerimis itu semakin membesar dan bertambah banyak dalam seketika. Yang awalnya gerimis sama-sama berubah menjadi hujan deras. Ojek yang sudah datang terpaksa kubatalkan, aku dan kucingku bisa basah kuyup menuju klinik untuk ganti perban. Sebagai gantinya, aku duduk di teras menikmati hujan sambil membaca Saga dari Samudra.

Sembari mengumpulkan mood untuk membaca buku, kusiapkan headphone dan daftar tembang. Entah kenapa kemudian kuputar What It Is to Burn dari Finch Band. Dulu lagu ini pernah jadi favorit, kuputar berulang.

Ada tiga versi lagu ini. Dua format band lengkap dengan aransemen sedikit berbeda. Lainnya adalah versi akustik yang aransemennya benar-benar berbeda. Kupilih versi akustik.

Setiap mendengar lagu ini versi akustik, beragam emosi hadir. Emosinya menguat pada versi ini. Aku bisa merasai duka, rasa kecewa, dan kepasrahan dalam versi akustik ini.

Hujan mulai mereda. Kucing-kucing nampak berlarian histeris. Ada sesuatu di mulut Cemong. Astaga kecoa terbang.

Kecoa itu tiba-tiba terlepas, kucing-kucing nampak gembira mengejar buruannya. Sedangkan aku mulai ngibrit masuk ke dalam rumah dan mencari sapu untuk senjata.

Dari tembang Finch, berganti menjadi Face Down milik The Red Jumpsuit Apparatus. Wah daftar putarku jadi emo nih.

Mendengar lagu Face Down ini aku jadi ingat festival Everblast yang kutonton dua tahun silam. Band ini menjadi salah satu yang tampil sebelum giliran Hoobastank. Aku hanya tahu tembang Face Down saja, tapi penampilan band tersebut bagus, jadinya aku menikmati penampilan mereka.

Wah aku malah jadi asyik mendengarkan lagu, daripada membaca buku. Mood-ku mulai meredup gara-gara kecoa terbang menyerbu. Kucing-kucing masih asyik memainkan korbannya dengan kegembiraan yang meletup-letup. Aku jadi takut melangkah, takut dilempar dan diberi hadiah berupa korbannya itu.

Aku memeriksa daftar putarku sebelum kembali membaca buku. Aku bisa uring-uringan sendiri jika ada lagu yang malah membuatku bad mood terputar saat ingin membaca buku. Kupilih daftar lagu alternatif dari band seperti Hooverphonic, Massive Attack, Enigma, dan Sneaker Pimps. Mereka pandai memainkan atmosfer, cocok menemani aktivitas baca buku.

Membaca Saga dari Samudra
Aku memilih buku ini karena tertarik dengan pengarang dan cover bukunya. Warna cover bukunya menarik, dengan dominan warna biru. Gambarnya menampilkan samudera dan dua orang yang berkelahi dengan keris dan blangkon. Pengarangnya adalah Ratih Kumala yang namanya meroket sejak Gadis Kretek diadaptasi menjadi series Netflix.

Ada kejutan di sampul luarnya. Ketika kubuka di bagian belakangnya ada silsilah pohon keluarga dan kerabat Jaka Samudra. Dari sini aku baru ngeh jika buku yang kubaca adalah cerita tentang Raden Paku atau Sunan Giri yang berjulukan Pangeran Samudra.

Ingatanku langsung terlempar ke masa anak-anak. Aku dulu membaca habis koleksi bacaan Wali Songo punya ibu. Aku masih ingat ceritanya sebagian besar.

Buku Saga dari Samudra ini terdiri dari 11 jilid Jilid pertama berjudul Nyai Ageng Pinatih. Sedangkan jilid terakhir adalah Giri Kedaton.

Pada jilid pertama dikisahkan cerita tentang Nyai Ageng Pinatih yang merupakan perempuan saudagar dan seorang syahbandar di Pelabuhan Gresik. Ia merawat bayi yang ditemukan nakhoda kapal di dalam peti bayi dan menahan kapalnya. Bayi tersebut diberinya nama Jaka Samudra.

Cerita bergulir ke sosok yang membenci Nyai Ageng Pinatih dan berniat melenyapkannya bersama bayinya. Keduanya ditolong Sunan Ampel. Cerita terus bergerak maju hingga Jaka Samudra dewasa dan kemudian mencari orang tua kandungnya.

Membaca novel ini membuatku ingat akan buku Wali Songo yang pernah kubaca waktu kecil. Aku ingat bagian Sunan Bonang dan Sunan Giri ketika masih menjadi murid Sunan Ampel. Sunan Giri dimintai Sunan Ampel menggoda Sunan Bonang agar tertarik meminum tuak. Eh ternyata rayuannya hampir berhasil sehingga membuat Sunan Giri merasa bersalah. Sunan Bonang dihukum untuk khatam Al-Quran, sementara Sunan Giri yang merasa bersalah juga menghukum dirinya dengan lebih banyak mendekatkan diri ke Tuhan.

Sunan Giri dikenal sebagai wali yang paling tegas. Aku ingat beberapa kisahnya. Namun kisah dalam buku Ratih Kumala ini melengkapi cerita yang pernah kubaca, meski aku tak yakin ceritanya beneran terjadi atau fiktif belaka.

Bagian cerita yang membuatku tersenyum adalah cerita Sunan Bungkul yang ada di Surabaya. Aku tak ingat akan cerita ini sehingga bagian tentang Sunan Bungkul ini membuatku terkenang akan masa-masa kami saat kuliah suka berkumpul di sini.

Aku juga suka Ratih Kumala menonjolkan sosok Nyai Ageng Pinatih di sini. Ini menunjukkan pada jaman dulu juga ada tokoh perempuan hebat yang disegani Bagian cerita yang menonjolkan Nyai Ageng ini juga terasa kontradiksi dengan bagian lainnya yang melemahkan peran dan sosok perempuan.

Aku suka ilustrasinya yang dibuat oleh Emiliano Tardifiasto. Sederhana tapi menarik. Pilihan warnanya juga indah.

Cerita Saga dari Samudra oleh Ratih Kumala ini terbilang segar untuk mengenalkan sosok Raden Paku ke generasi muda. Hanya bagi mereka yang dulu pernah membaca buku Wali Songo mungkin merasa buku ini seperti remake atau versi modern dari cerita lama.

Hujan benar-benar berhenti. Dan aku pun tuntas membaca buku Saga dari Samudra

Detail Buku:
Judul: Saga dari Samudra
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 193 halaman
Tahun Terbit: 2023
Rating: 21

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 5, 2025.

Tinggalkan komentar