Tentang Video Trailer Animasi Merah Putih: One for All

Setelah film Jumbo berhasil meraih lebih dari 10 juta penonton, rasanya dunia animasi Indonesia bakal cerah. Apalagi bulan Agustus ini ada film animasi Panji Tengkorak yang bakal tayang di mana visualnya juga nampak memikat. Namun, kemunculan mendadak animasi Merah Putih: One for All membuat penikmat animasi lokal pun resah.

Video trailer Merah Putih:One for All tersebut merebak mulai kemarin (8/8), setelah sempat diadakan pemutaran perdana mengundang banyak orang. Pihak jaringan bioskop seperti Cinepolis dan CGV memutar video trailer-nya dan menyebut film ini akan tayang mulai 14 Agustus 2025.

Ketika melihat posternya yang berisikan delapan anak, aku terheran-heran. Ini animasi digital bukan animasi stop-motion, bukan?!

Lalu kuputar video trailer sepanjang 2 menit 2 detik ini berulang kali. Awalnya aku menduga apakah filmnya pakai stop-motion karena ada saja animasi dengan teknik ini yang menghasilkan desain gambar yang kurang bagus karena sulitnya membuat boneka lalu menggerakkannya. Namun ini animasi digital bukan stop-motion.

Aku juga sempat mengira animasi ini pakai AI karena desain lengan dan jemari seringkali nampak kurang sesuai dengan bentuk tubuh dan pergerakan karakter. Namun ketika kutanya ke keponakanku, ia menganggap animasi itu memang buatan manusia hanya memang desainnya begitu buruk.

Oh jadi ini masalah desain karakternya saja yang buruk dan kasar. Desain anak-anaknya tidak nampak imut dan menggemaskan seperti lazimnya anak-anak. Desain rambut dan kostum untuk anak perempuan yang dikuncir nampak janggal. 

Jika diperhatikan baik-baik video trailer tersebut, visualnya nampak aneh. Dibandingkan animasi tahun 2000-an seperti Meraih Mimpi (2008) kalah jauh. Jauh lebih baik Meraih Mimpi. Apalagi jika dibandingkan Jumbo

Oke mari bahas dari awal. Di awal nampak pemandangan di sebuah desa dengan bendera dan tulisan merdeka. Ini gambar yang paling lumayan seperti lukisan anak-anak SD. 

Selanjutnya nampak kepala desa dengan toa didampingi satpam. Desain badan satpam nampak kurang proporsional. Sedangkan animasi kepala desa kadang lambat mengabur. 

Lalu muncul narasi dengan tulisan aneh, ‘tapi hilang bendera nya’. Bendera dan nya dipisah. Eh ini apa tidak diperiksa dulu ya ejaan sebelum dipisah. Oh iya sebelumnya ada adegan lomba seperti panjat pinang yang juga nampak aneh tiang dan penempatan hadiahnya. 

Adegan di gudang ketika mereka hendak mencari bendera juga visualnya nampak hancur, tak enak sama sekali dilihat. Makin parah ketika adegan beralih ke hutan. Desain latar hutan, sungai nampak kasar, berantakan, dan kurang layak untuk tayang, demikian juga visual untuk hujan. Dan lagi-lagi aku gelisah melihat kata ‘yang’ disingkat menjadi ‘yg’ di video trailer tersebut. 

Selain visual yang kurang enak dinikmati, jalan ceritanya terkesan dipaksakan. Bendera hilang lalu dicari oleh anak-anak di hutan? Wah ada-ada saja bagaimana jika anak-anak tersebut yang kemudian hilang? Lalu ada isu perdagangan hewan langka juga. Wah berat banget ya. Sebenarnya tidak apa-apa sih tapi di animasi ini nampak tidak meyakinkan. 

Iseng-iseng kuperiksa studio pembuat dan orang-orang di baliknya. Studio pembuatnya, Perfiki, tidak nampak portofolionya. Nama-nama produser, sutradara, dan animatornya juga sulit dicari kiprahnya di bidang perfilman. Ada satu nama yang rupanya orang partai. 

Ehm memang animasi ini nampak janggal, baik dari produknya maupun para pembuatnya. Sebaiknya animasi ini batal tayang saja karena memang kurang layak untuk tampil di layar lebar. Akan lebih baik bila gambarnya diperbaiki dan jalan ceritanya juga ditulis ulang agar lebih menarik. 

Gambar dari CGV/Perfiki

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 9, 2025.

Tinggalkan komentar