Tom Yam Kearifan Lokal

Ketika diajak bersantap sambil menikmati panorama petang di sebuah resto di bukit Lampung, aku memilih memesan tom yam. Harganya lumayan mahal. Namun aku lagi ingin makanan berkuah asam manis segar.

Agak lama pesananku tiba. Yang lain sudah bersantap nasi goreng dan lainnya. Aku menunggu dan sudah merasa mereka lupa memasak pesanan.

Akhirnya pesanan diantar. Namun aku tak bisa menyambut dengan sumringah. Tom yam nya jauh dari harapanku. Dari warna, penampilan sudah langsung gagal.

Yang pertama warnanya kurang merah atau jingga kemerahan. Ini malah kecokelatan. Kemudian pinggiran mangkuknya kotor. Mereka tidak detail urusan seperti ini.

Lalu yang bikin aku bengong kenapa ada kerupuk udang di piring nasinya ya? Ini perpaduan yang janggal.

Namun isiannya tak kalah membuatku kebingungan. Ini sebenarnya masakan apa ya?

Isinya kebanyakan tahu putih. Kemudian ada jamur enoki dan bakso ikan. Untungnya ada beberapa irisan cumi dan udang.

Dari segi rasa untungnya masih asam manis segar walaupun rasanya jauh dari otentik. Asam manis segar ala kadarnya.

Keberadaan tahu membuatku resah namun karena harganya agak mahal yakni Rp50 ribu, aku pun berupaya menghabiskannya.

Aku santap tahu dengan kuah tom yam. Kemudian menyeruput kuah serta menyantap cumi dan udang. Tekstur enoki dalam tom yam menurutku kurang serasi, tapi kumakan juga dengan alasan jangan disia-siakan.

Isian tom yam pun habis. Lalu aku melirik kerupuk udang yang tak serasi disantap dengan tom yam kearifan lokal ini.

Aslinya aku kecewa. Penampilan dan rasanya jauh dari harapan. Namun karena aku lapar dan pemandangan bersantap di sini indah, aku tak begitu kesal.

Namun, ketika aku melihat bukit-bukit Lampung yang banyak menghilang digantikan restoran, perumahan, dan lainnya, lagu-lagi aku merasa resah. Aku merasa bersalah.

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 18, 2025.

Tinggalkan komentar