Ironi di Negeri Tropis

Setiap kali belanja, rasanya meringis melihat harga barang-barang yang makin tinggi. Harga minyak goreng dan santan tak kunjung kembali ke harga sebelum melambung tinggi. Sungguh ironis, padahal kita hidup di negeri tropis.

Sejak kapan harga minyak kelapa makin tak terkendali? Mungkin sekitar dua tahun terakhir. Aku ingat dulu minyak dua liter harganya sekitar Rp25 ribu, kini harganya tak kira-kira naik. Entah kenapa tak bisa turun lagi. Apakah karena ingin para oknum terus meraup duit dari keuntungan yang tinggi?

Aku resah dan aku yakin kalangan ibu juga marah sekali. Apa alasan pemerintah tak bisa menurunkan harga minyak yang begitu tinggi? Bukankah mereka terus-terusan membuka perkebunan kelapa sawit? Hingga meniadakan hutan dan membuat para satwa liar sengsara sekali. Sebenarnya untuk siapa kelapa sawit?

Belum lagi soal santan yang ganjil. Harganya juga bikin sedih. Keganjilan ini terjadi mulai bulan puasa ketika banyak yang memerlukan santan untuk masak rendang, kolak, dan bubur candil. Makin dekat lebaran, harganya tak kira-kira dan di supermarket mulai raib.

Kini keberadaannya mulai marak lagi. Sayangnya harganya juga belum turun kembali. Entah beralasan apa lagi. Apa belum cukup ambil untung tak kira-kira ini?

Negeriku makin ganjil. Penuh ironi dan kontradiksi. Kelapa seharusnya hal yang mudah dijumpai di negeri tropis. Kini sawit makin di sana-sini, tapi harga minyaknya bikin miris.

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 29, 2025.

Tinggalkan komentar