Tamat Baca “1984” dan Kucing Liar Melahirkan

Akhirnya aku menamatkan novel “1984” karya George Orwell. Penutupnya tak sesuai harapanku, tapi memang lebih cocok akhir kisah Winston, Julia, dan warga Bung Besar dibiarkan seperti itu.
Bukankah memang kehidupan sering mengkhianati kita? Tak serta-merta mengikuti keinginan kita.
Aku belum membuat ulasan bukunya. Masih terpekur usai membacanya. Mengapa sebagian yang ada saat ini seperti yang ada dalam buku tersebut ya?! Sungguh kenyataan ini tidak menyenangkan.
Nah, omong-omong tentang realita, aku kemarin mendapat hadiah yang tak kuharapkan. Seekor kucing liar melahirkan di rumah.
Aku langsung kelimpungan mendapati suara bayi-bayi kucing yang tersebar seperti stereo. Rupanya si induk kali pertama melahirkan di halaman, baru kemudian masuk ke dalam rumah. Alhasil tiga bayi kucing dengan kondisi mengenaskan ada di luar rumah. Tiga lainnya di dalam rumah. Ada tiga krem dan tiga gelap.
Enam ekor bayi kucing? Astaga.
Padahal aku sudah bilang ke kucing liar itu agar jangan melahirkan di rumahku jika masih ingin dapat jatah makan. Tapi aku kasihan untuk mengusirnya. Kemasukan semuanya dalam boks yang telah kualasi kain hangat.
Hari ini aku memakamkan satu bayi kucing. Ia mati lemas. Mungkin tergencet dan kalah berebut ASI. Tadi malam kulihat ada satu lagi yang mulai jarang bergerak. Kalau lihat ini aku jadi kasihan.
