Serial Bung Pentas: Jenjang Karier Jelas Karyawan Puas

Seperti biasanya Bung Pentas tiba di kantor satu jam lebih cepat dari jam masuk. Rute perjalanannya menuju kantor memang melewati kawasan super macet karena itu ia memilih berangkat pukul 05.30 daripada terjebak macet.

Dan seperti hari-hari biasanya Maman, office boy di ruangan sebelah, menyapanya seraya menanyakan menu sarapannya hari ini. Limabelas menit kemudian pesanannya tiba, tiga potong dadar gulung dan sekotak jus jambu.

Hampir bersamaan dengan Maman, Suprapto, karyawan Divisi SDM, datang menghampiri. Tanpa menunggu dipersilakan, Suprapto menarik kursi di depan Bung Pentas dan mencomot sepotong dadar gulung. ’’Berita apa yang menarik hari ini Tas?’’ tanya Prapto sambil menunjuk koran yang tengah dibaca Bung Pentas.

Bung Pentas menggelengkan kepalanya. ’’Beritanya itu-itu juga, dugaan korupsi mantan pejabat, persidangan perusak alam yang tidak memuaskan, perampokan bla bla bla,’’ paparnya.

’’Tas, week end kemarin saudaraku yang bekerja di perusahaan multinasional menginap di rumahku,’’ kata Suprapto mengawali ceritanya.’’Lalu?’’ tukas Bung Pentas tidak sabaran.’’Sabar Tas, dengar dulu ceritaku sampai habis,’’ pinta Suprapto.

Bung Pentas kemudian melipat korannya dan menyandarkan bahunya ke kursi siap mendengarkan kisah teman diskusinya.

Sedetik kemudian mengalirlah cerita dari bibir pria usia akhir tigapuluhan ini. Saudara Prapto yang masih lajang itu termasuk pria sukses. Meski usianya masih relatif muda ia telah menduduki posisi strategis di perusahaan tempat ia bekerja. Dian, saudara Suprapto, menjadi orang kedua di Divisi SDM. ’’Jadi riwayat karier termasuk jenjang karier mendatang para pegawai di situ diketahui oleh Dian,’’ ujar Prapto dengan bangga.

’’Apa bedanya dengan pegawai SDM di sini?’’Bung Pentas menginterupsi.Prapto melanjutkan ceritanya tanpa menghiraukan interupsi sahabatnya. Di tempat kerja Dian yang membuat takjub Prapto, sangat jarang atau bisa dihitung dengan jari keluhan-keluhan dari pegawai yang dimutasi atau dirotasi.

’’Kontan aku bertanya ke Dian, ‘hebat’ apa resepnya?’’ kata Prapto penuh semangat. Kuncinya ternyata terletak pada sistem informasi manajemen (SIM) yang dimiliki perusahaan tersebut, lanjut Prapto. SIM merupakan kumpulan dari sistem informasi akuntansi yang menyediakan informasi dan transaksi keuangan; SI pemasaran yang berupa informasi untuk penjualan, promosi penjualan, kegiatan-kegiatan pemasaran dan kegiatan-kegiatan penelitian pasar; SI manajemen persediaan; SI personalia; SI penelitian dan pengembangan dan sebagainya. Jadi, mereka memiliki data base terpusat yang berisikan data karyawan, akuntansi dan segala data perusahaan yang mereka sebut bank data.

Bank data itu bisa diakses via komputer dekstop, internet dan ponsel dengan tingkat keamanan berlapis-lapis. Jadi, ada tingkatan user. Hanya level teratas yang memiliki akses ke semua data.

’’Kalau cracker iseng-iseng masuk ke bank data itu dan ngubah data seperti pemilu lalu bagaimana?’’ tanya Bung Pentas penasaran.’’Wah kalau masalah itu sih tergantung teknologi enkripsi data sistem tersebut,’’ jawab Prapto sok tahu. ’’Kata sepupuku selama ini aman-aman saja tidak pernah ada kasus kebobolan data,’’ imbuhnya.

Nah keuntungan bagi divisinya Dian, kata Prapto sambil melotot ke Bung Pentas yang hendak kembali bertanya, cukup banyak. SIM itu menyediakan informasi lengkap tentang karyawan; informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian dan perbaikan berkelanjutan; serta menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Bila manajer SDM berniat memutasi atau menaikkan golongan karyawannya, ia tinggal mengklik NIK dan jabatan atau tempat yang akan diisi karyawan tersebut. Yang terjadi, di layar akan terpampang rincian biaya operasional dan para calon pengganti karyawan tersebut. Calon pengganti karyawan itu tidak sembarangan melainkan orang-orang yang keahlian dan pengalamannya dibutuhkan untuk posisi tersebut. Seperti kita memerlukan orang yang kreatif dan jago pemasaran, maka akan ditawarkan orang-orang yang berlatar belakang pendidikan pemasaran, manajemen atau pernah memiliki pengalaman kerja di perusahaan di divisi pemasaran.’’Itu benar terjadi?’’ Bung Pentas tidak percaya.”Masak aku bohong?!Kan sudah sewajarnya jenjang karier jelas dan transparan?!” tukas Prapto ngotot. ”Tas, pernahkah Kamu dengar seorang karyawan keluar masuk perusahaan gara-gara jenjang karier dan kompensasinya tidak memuaskan?” Prapto bertanya balik.

Bung Pentas mengangguk. ”Tidak sekali dua kali aku dengar, malah sering. Keponakanku sendiri baru-baru ini keluar dari industri otomotif karena ditempatkan di posisinya yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya,” papar Bung Pentas.

’’Kasihan ya nasib si Samsul atau orang-orang berpotensi lainnya yang akhirnya bekerja ‘seadanya’ itu,’’ ujar Karjo lirih.

Bung Pentas tidak menanggapi. Ia melirik jam di dinding. Sebentar lagi bel masuk berdentang. Ia harus bersiap untuk mengikuti seminar yang diadakan di aula. (dimuat di Media TASPEN 82)KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

~ oleh dewipuspasari pada Februari 15, 2008.

Tinggalkan komentar