Terinspirasi Petualangan Gulliver

Seorang kapten kapal asal Inggris antara senang dan sedih menemukan dirinya terdampar pada sebuah pulau. Sedih karena kehilangan kapal dan anak buahnya, sekaligus senang karena menemukan harapan untuk berjumpa lagi dengan sesamanya. Malang, makhluk yang ditemuinya bukanlah manusia seperti yang dikenalnya, melainkan makhluk aneh yang menamakan dirinya bangsa Mozo-mozo. Naasnya lagi, bangsa Mozo-mozo berniat untuk menikmati kelezatan daging tubuhnya.
Beruntung raja cukup bijak dan mau mendengarkan nasihat rakyat-rakyatnya. Mereka tidak akan menyantapnya asalkan ia mampu menjadi bangsa Mozo-mozo dalam waktu satu bulan. Putusan raja mendapat tentangan dari Ratu, namun Raja tidak bergeming. Ia bahkan memberi nama khusus, yaitu Garibaba

Mulailah hari-hari dimana Garibaba mempelajari bahasa Mozo-mozo beserta peraturannya yang unik. Awalnya Garibaba kesulitan. Namun, segalanya berbalik ketika ia jatuh cinta pada salah satu wanita bangsa Mozo-mozo. Raja dan Ratu yang terkagum-kagum dengan kepandaian Garibaba lalu menjadikannya sebagai warganegara kehormatan.
Namun, Garibaba mulai terlarut oleh pemujaan Raja terhadap dirinya. Ia menciptakan ide-ide kontroversional. Termasuk, melegalkan memakan daging bayi bangsa Mozo-mozo ketika kelaparan menyergap bangsa sederhana itu.

Kisah petualangan Garibaba ‘Garibaba’s Strange World” ini dibawakan selama lebih dari 100 menit oleh kolaborasi lintas budaya seniman Jepang dan Indonesia pada 12 Juni 2009 di Graha Bakti Budaya, TIM. Kolaborasi ini melibatkan Kelompok seni pertunjukan ternama asal Jepang “Pappa Tarahumara” bekerja sama dengan The Japan Foundation dan Kelola.

Kualitas fisik penari patut diacungi jempol meski secara teknis olah tubuh si penari tidak terlalu istimewa. Hampir sepanjang pertunjukan mereka bergerak energik, termasuk gerakan salto, akrobat atau mematung. Pementasan semakin menarik dengan kehadiran si pedalang suket Slamet Gundono sebagai penutur cerita.

Kisah petualangan Garibara ini disutradarai Hiroshi Koike. Ia mengakui terinspirasi kisah GulliverTravel ketika menciptakan karya tari-teater ini. Hiroshi mengaku telah tertarik dengan karya penulis Jonathan Swift (1667-1745) sejak 20 tahun lalu. Ia menyukai sudut pandang Swift tentang dunia yang penuh keganjilan dan berlawanan dengan realita kehidupan.
