Kisah Mini: Terlambat itu Egois
Aku benci menunggu. Apalagi, menunggu orang karena janji bertemu. Aku juga benci datang terlambat. Sebab, aku paham perasaan orang-orang yang bosan menunggu. Sayang banyak orang yang tidak sadar akan tindakan terlambatnya yang egois. Ia tidak sadar atau dengan sengaja menyebabkan pasangan, rekan, atau klien kerjanya menunggu. Seperti saat ini aku menanti Deni di sebuah mal di Jakarta Selatan.
Sudah hampir 30 menit ku menunggu. Jarum jam telah bergeser dari angka 10 dan 12 menuju angka 6 dan pertengahan angka 10 dan 11.
Awalnya aku berniat memberikan kesempatan kedua untuknya.namun, dengan kondisi ini jelas aku menolak untuk jadi kekasihnya.
Dan Deni tidak akan bisa berkutik. Hermawan yang tinggal satu apartemen dengannya tanpa merasa berkhianat mengirimkan pesan si Deny tertidur dan baru bangun 30 menit yang lalu, waktu kami seharusnya bertemu. Paling cepat ia datang 15 menit lagi.
Coffe latte-ku sudah habis kusesap, demikian pula french toastku sudah tak tersisa. Si pelayan mencoba menarik perhatianku agar aku memesan lagi. Enggan. Akhirnya aku malah menulis kisah mini dengan mengetik tiap hurufnya di ponselku. Sudah 400 karakter. Aku menulis tentang beruang, tokoh favoritku.
Deni bukan beruang itu meski ia ramah. Aku juga tidak merasakan apa-apa ketika bersamanya. Ia memang pindah sejak dua bulan lalu dari kota asalku ke apartemen di Jakarta, agar lebih dekat ke aku.Alasan yang romantis. Ortuku yang sejak awal mendekatkan kami sangatlah girang. Aku tidak merasakan euforia itu.Dan aku berniat pergi dari kafe ini. Aku tidak layak menanti pria seperti Deni.
Terkait
~ oleh dewipuspasari pada Desember 27, 2010.
Ditulis dalam Kisah Mini
Tag: deni, kisah mini, menunggu, mitha, terlambat

