Kisah Mini: She Came Home for Christmas
Sejak dulu aku menganggap Mitha istimewa. Kami mulai bertemu ketika berusia tujuh tahun. Ayahku rekan bisnis orang tuanya, dan ayahku mengajakku datang ke pesta natal keluarga Mitha. Mitha mengenakan gaun panjang putih berenda tanpa lengan. Rambutnya yang panjang ikal dibiarkan terurai. Ia benar-benar seperti gambaran peri yang dikisahkan di dongeng-dongeng.
Aku tidak bisa menyebutkan namaku saat berjabat tangan dengannya. Lidahku kelu, mataku hanya menatapnya. Orang tuaku dan para tamu tertawa menggodaku, aku sangat malu.
Tidak setiap natal aku berjumpa dengannya. Dan lidahku selalu berat walau sebenarnya aku sangat ingin bercakap-calap dengannya. Aku hanya bisa mendengar derai tawanya dan melihat matanya yang berkilat-kilat ketika bersemangat bercerita. Semua anak menyukainya dan para orang tua memuji kepiawaiannya bermain biola, kecerdasannya sehingga masuk kelas khusus, dan kelenturannya sebagai atlit senam pita. Ia gadis yang sangat mengagumkan.
Selepas SMU aku kehilangan jejaknya. Sejak itu aku merasa menyia-nyiakan masa mudaku dengan hanya memikirkannya. Aku lalu menjalin hubungan dengan gadis tercantik di kampusku yang berada di Belanda. Tidak berjalan mulus. Fanti dengan Nora, lalu Lisa, Donna, dan entah siapa lagi. Aku tidak pernah sendirian. Toh keluargaku cukup berada, wajahku tampan, dan otakku cukup encer.
Itulah aku sebelum bertemu kembali dengan Mitha. Saat malam natal bersama orang tuanya. Kali ini berbeda, aku datang tanpa orang tuaku dan ternyata tamunya hanya ada aku.
Aku menelan ludah ketika mendengar suaranya menyapa papa mamanya. Ia tertegun melihatku. Pandangannya mengisyaratkan pertanyaan ke orang tuanya, siapakah aku.
Ini malam natal yang menurut orang penuh keajaiban. Aku merasa diberkati pada malam natal pertamaku di Indonesia, bisa bertemu kembali dengan gadis cinta pertamaku. She came home for christmas. Lagu milik Mew itu mengalun dalam benakku.

