Resensi Buku: Intrik Politik Perebutan Tahta Tumapel
Ken Arok dan Ken Dedes dikenal sebagai pendiri Kerajaan Singosari yang berada di Jawa Timur. Ada banyak kisah tentang Ken Arok dan Ken Dedes, siapa keduanya? Apa motivasi Ken Arok merebut tahta Tumapel dari tangan Tunggul Ametung? Nah, jika Anda sudah membaca banyak versi tentang Ken Arok dan Ken Dedes, Anda bisa membaca versi Pramoedya Ananta Toer yang penuh dengan intrik politik.
Kisah dibuka dengan penculikan Dedes oleh Tunggul Ametung. Dedes adalah brahmani penganut Hindu Siwa yang taat. Ia adalah putri satu-satunya Mpu Parwa, brahmana yang disegani namun tidak memiliki murid selain putrinya. Tunggul nekat menculik Dedes untuk dijadikan permaisurinya ketika mendapat saran dari seorang brahmana bahwa Dedes yang berada di kasta tertinggi masyarakat hindu akan memberikan perubahan baik bagi dirinya dan Tumapel.
Dedes sendiri sangat marah dipisahkan paksa dengan ayahnya. Apalagi ia dan ayahnya sangat membenci kelakuan Tunggul Ametung yang sewenang-wenang terhadap masyarakat jelata dan menghinakan para brahmana Hindu Siwa seperti mereka. Ia seperti kehilangan dirinya ketika dinikahkan paksa dengan Tunggul Ametung oleh brahmana suci Belakangka penganut Hindu Wisnu. Ia seperti mayat hidup sebelum bertemu dengan pelayannya, Rimang, yang merupakan bekas selir Tunggul Ametung.
Sementara wilayah Tumapel terus bergejolak. Telah beberapa kali terjadi kerusuhan dan perampasan upeti yang sulit dibasmi. Tunggul Ametung kemudian memimpin sendiri pasukannya dan merasa tak berdaya ketika bertemu dengan seorang pemuda berkumis yang sangat berwibawa. Di satu sisi ia merasa lemah ketika Raja Kediri, atasannya, berniat mencari pengganti dirinya jika Tunggul Ametung gagal mengatasi pemberontakan dan menyerahkan upeti emas berkali-kali lipat.
Di tempat lain ada seorang pemuda yang dididik oleh Dah Hyang Lohgawe seorang brahmana yang memiliki pengaruh sangat besar. Dah Hyang Lohgawe merasa anak didiknya ini sangat istimewa dan dapat membawa perubahan bagi Tumapel. Ia memberinya nama Arok. Diperkenalkannya Arok ke kalangan para brahmana dan diajukannya Arok ke Tunggul Ametung sebagai pemimpin pasukan Tumapel untuk membasmi pemberontakan.
Tahta Tumapel rupanya bukan hanya dibidik oleh kaum brahmana Siwa dengan Arok sebagai jagoannya, masih ada Empu Gandring yang juga bernafsu meraihnya dengan menumbalkan tamtama bernama Kebo Ijo yang tidak menyukai kesatria anak selir Tunggul dan jatuh cinta terhadap Dedes. Dan tanpa disadari Arok dan Mpu Gandring, masih ada tokoh lain yang juga bernafsu menjatuhkan Tunggul Ametung.
Intrik politik yang rapi dan berlapis-lapis inilah yang menarik dalam kisah Arok-Dedes ini. Berbeda dengan cerita yang saya pernah dengar, di versi Pramoedya ini tidak ada keris Empu Gandring yang sakti dan bertuah. Arok juga bukan sekedar perampok kasar dan brutal. Empu Gandring tetap digambarkan seorang pembuat senjata bahkan ialah pemilik industri senjata yang terbesar di Tumapel masa itu. Ia bersinggungan dengan Arok ketika Arok meminta dibuatkan senjata untuk pasukan pemberontaknya. Si Arok di sini dikisahkan adalah pemuda yang cerdas. Ia menguasai sansekerta meskipun berasal dari kaum sudra. Ia paham masing-masing ajaran Buddha, Hindu Siwa dan Hindu Wisnu. Ia juga paham sejarah seperti masa Erlangga dan turunannya. Namun meskipun cerdas, Arok yang memiliki nama asli Temu juga digambarkan licik dan culas untuk mencapai tujuannya.
Sosok Dedes dan Umang juga ditampilkan sebagai karakter yang menonjol. Dedes yang cerdas memiliki andil yang besar dalam kudeta. Ia remaja yang cantik dan kemudian jatuh cinta pada Arok, namun ia juga digambarkan sebagai sosok yang angkuh dan memandang kaum Brahmana Siwa adalah warga kelas tertinggi di lingkungan Tumapel. Sementara Umang memiliki jalinan yang erat dengan Arok karena ia adalah adik angkat Arok yang selalu setia mendampinginya.
Membaca karya Pram satu ini perlu bersabar karena banyak istilah Jawa dan sansekerta yang jarang digunakan, seperti istilah agama, ugami, yang rupanya maknanya agak bergeser dengan makna istilah tersebut saat ini. Begitu juga perbedaan antara tantrayana, Hindu Siwa, dan Hindu Wisnu yang mungkin sulit dipahami oleh pembaca di luar pemeluk agama Hindu. Namun begitu Anda mulai memahami situasi dan konflik dalam kisah ini, Anda akan menyadari bahwa ada perulangan berbagai kejadian atau karakter tokoh yang mirip dengan peristiwa atau karakter tokoh masa kini.
Detail Buku
Judul Buku : Arok Dedes
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Rating : 7,5/10
Gambar dari pinterest.com

