Adira FOI: Waduk Selorejo Nostalgia dengan Kenangan Masa Kanak-kanak
Waduk Selorejo pernah menjadi tempat wisata favorit keluarga kami pada awal tahun 1990-an. Sebuah waduk yang asyik sebagai tempat memancing dan berpiknik. Di sini kami juga puas menyantap ikan mujair dan ikan air tawar lainnya yang gurih. Namun apa kabarnya setelah hampir dua dekade kami tak mengunjunginya? Rasa penasaran pun mengusik kami untuk menuju ke sana. Berikut tulisan saya di Adira FOI.
Rute menuju Selorejo hanya samar-samar terekam dalam benak. Yang saya ingat medan perjalanannya berkelok-kelok dengan jalanan yang sempit dan cukup ceram. Karena kami mengendarai sepeda motor, maka kami harus ekstra hati-hati menuju ke sana mengingat medan yang tidak mudah tersebut.
Musim kemarau membuat hawa di Batu menjadi lebih dingin dari biasanya, dan kami menggigil ketika melewati Pujon meskipun telah mengenakan jaket. Apalagi selama di Pujon kami disambut dengan hujan rintik. Setelah melewati Pujon menuju daerah Ngantang, cuaca kembali cerah. Saya pun bernafas lega karena tujuan kami telah dekat.
Berbekal petunjuk jalan dari kakek penjaga tambal ban di Kota Batu, kami tidak sulit menemukan rute ke Selorejo. Rute ini hampir mirip dengan rute menuju Kota Kediri dari Kota Batu, hanya nantinya ada persimpangan yang memecah rute tersebut.
Karena telah melewati waktu Ashar, jalan menuju Selorejo nampak lengang. Dan ketika berhenti di pintu loket, tidak ada antrian, hanya kami berdua. Untuk motor dan tiket masuk dua orang, kami ditarik Rp 20 ribu.
Pemandangan pintu masuk Selorejo nampak asing bagi saya. Setelah gerbang pintu masuk, ada papan petunjuk arah yang menunjukkan lokasi penginapan, masjid, dan waduk. Kami mengikuti papan penunjuk ke waduk dan di sini kami menemukan pelataran luas untuk parkir kendaraan yang saya ingat dulu ramai oleh penjual ikan air tawar goreng.
Dulu ketika paman memarkir kendaraan, dari jendela telah tercium bau gurih ikan mujaer dan ikan nila yang digoreng garing. Ikan itu masih balita dan digoreng kering hingga seperti kerupuk. Rasanya makin nikmat ketika dicocol dengan sambal kecap. Selain ikan air tawar goreng, dulu pelataran ini juga ramai oleh pedagang kue carang mas, yakni kue yang terbuat dari singkong dan gula merah yang dibentuk seperti sarang burung dan berasa manis.
Tapi pemandangan itu tidak saya jumpai. Pelataran nampak sepi, mungkin karena kami datang cukup sore atau karena hari itu telah memasuki H-2 jelang lebaran sehingga para penjaja kue dan ikan itu telah pulang kampung. Saya merasa ada sesuatu yang kurang.
Namun, keindahan waduk Selorejo membangkitkan memori saya masa kecil. Waduk ini cukup luas dengan air biru jernih. Di sana-sini ada pepohonan dan bangku yang dapat digunakan untuk beristirahat. Saya pun duduk seraya menikmati panorama danau dengan angin sepoi-sepoi yang melenakan. Lelah selepas berkendara motor selama dua jam dari kota Malang serasa hilang.
Baru beberapa saat kami duduk, seorang bapak menawarkan perahunya untuk berkeliling waduk. Karena takut pulang kemalaman, kami pun menolak dengan halus. Setelah puas menikmati sore yang indah di tepian waduk, kami pun berkeliling melihat para pengunjung yang asyik memancing. Para pemancing yang rata-rata pria paruh baya itu nampak tekun dengan jorannya. Meski sudah sore, masih ada belasan pemancing yang berada di tepian waduk.
Waktu saya kanak-kanak kami berlomba-lomba mengumpulkan ikan terbanyak. Tapi bukannya sibuk memancing, kakak perempuan dan sepupu saya malah asyik bermain dengan umpan, dan menakuti-nakuti saya dan sepupu lainnya yang lebih ke kecil dengan melempar umpan berupa cacing. Gara-gara ulah jahil kakak tersebut saya hampir tercebur. Lalu saya lebih memilih bermain di jembatan ayun untuk menjauh dari keisengan kakak.
Hemm apakah masih ada jembatan ayun tersebut? Kami melanjutkan berkeliling dengan motor untuk menghemat waktu dan rupanya jembatan itu masih kokoh. Dulu di Selorejo selain bisa memancing pengunjung juga bisa berlatih golf. Juga ada beberapa seluncuran dan ayunan untuk pengunjung anak-anak. Namun sayang kondisi permainan tersebut kurang terurus. Setelah puas bereuni dengan memori kanak-kanak, motor kami kembali menuju kota Malang. Ada keinginan untuk kembali ke waduk ini, memancing sambil menyantap ikan air tawar garing.



