Sambut Idul Fitri: Berburu Baju Hingga Mengelap Kaca

ngelap kaca

Sambut lebaran dengan semua serba baru. Begitu pikiran saya waktu masih bocah. Mendapatkan baju baru memang di keluarga saya amat jarang terjadi. Apalagi saya memiliki kedua kakak yang dengan senang hati mewariskan bajunya kepada saya. Berburu baju baru pun menjadi agenda yang menyenangkan.

Saat masih kanak-kanak proses membeli baju baru selalu ditemani ibu. Beliau dengan sabar menemani kami satu-persatu mendapatkan baju baru. Setiap anak bisa mendapatkan 2-3 baju baru sesuai dengan jatah per anak. Yang lebih asyik saat proses membeli baju baru ini, biasanya Ibu juga membelikan kembang api untuk dinyalakan saat malam takbiran.

Kami sudah tak sabar untuk mengenakan baju baru. Tapi Ibu mengingatkan banyak hal yang harus disiapkan jelang Ramadhan, apalagi rumah kami bersebelahan dengan rumah nenek. Sejak paman tertua kami meninggal, rumah nenek menjadi sentral acara lebaran.

Bersih-bersih Rumah

Jika ada uang lebih, ayah meminta tolong paman atau tetangga untuk mengecat rumah. Tapi seringnya kami hanya membersihkan rumah, mengepel loteng, mencuci tirai dan juga mengelap kaca. Bagian terakhir yang paling saya hindari, saya tidak suka mengelap kaca.

Rumah kami memiliki banyak kaca. Di ruang tamu ada kaca pintu dan kaca jendela, belum kaca di ruang keluarga, juga kaca jendela di loteng. Bagian yang paling saya hindari adalah mengelap kaca dari teras. Biasanya kami berhompipa siapa yang mendapatkan jatah membersihkan kaca di teras. Dan malangnya, sering kali saya yang harus mengelap kaca.

Mengelap kaca gampang-gampang susah. Jika menggunakan kain atau kertas koran bisa jadi seratnya menempel di kaca dan malah menjadikan kaca buram. Biasanya menggunakan lap basah dan lap kering agak bersih.

Menata Kue

Bagian berikutnya yaitu membersihkan toples dan menata kue. Ini bagian favorit saya. Tiap tahun ibu sering mengganti tema toples sehingga jumlah toples kami cukup banyak. Tapi yang paling sering digunakan adalah jenis tempat kue yang bisa diputar seperti komidi putar.

Selepas maghrib atau setelah tarawih saya pun menata kue. Jika toplesnya penuh maka sisanya bisa masuk ke dalam mulut hehehe. Nenek biasanya juga menugakan saya mengisi toplesnya. Horee..saya bisa mencicipi kue-kue punya nenek.

Memecah Celengan Gerabah

Ayah juga punya tradisi jelang lebaran yaitu memecah celengan gerabahnya. Kami pun kemudian sibuk menghitung uang recehan. Jumlahnya cukup banyak. Biasanya oleh ayah disimpan untuk memberi angpao anak-anak luar kampung yang bertandang ke rumah kami. Dan setelah lebaran ia kembali membeli celengan gerabah.

Memasak dan Selamatan

Rumah sudah bersih, kini kami bersiap memasak. Ibu sudah sibuk dengan memasak nasi kuning, ayam, sambal goreng tempe, acar, dan perkedel. Ya, kami kembali melakukan selamatan. Dulu kami biasa mengantar dengan baki dan piring yang dialasi daun pisang tapi semakin ke sini kami menggunakan kardus dengan alasan lebih praktis. Saat ini ibu lebih sering memesan karena anak-anaknya sudah pergi merantai.

Seperti awal puasa, jelang ramadhan hampir tiap hari ada kiriman dari tetangga. Sehari bisa ada 2-3 kardus isi makanan. Dan sekarang isinya beragam tidak lagi nasi kuning. Ada ayam bakar setengah dengan lalapan. Ada nasi putih ala rames dan masih banyak lagi. Pernah suatu saat kami berlima masing-masing mendapat satu dus makanan sehingga ibu pun memutuskan cuti memasak selama beberapa hari ke depan. Ia mengalihkan energinya untuk membuat hidangan lebaran.

Menu Lebaran

Menu hidangan lebaran kami umumnya adalah nasi putih atau ketupat, telur petis, sayur rebung, dan opor ayam. Menu pendampingnya adalah es podeng. Sedangkan nenek sering mendapat kiriman rawon atau daging bumbu bali dari bibi. Dulu kami juga sempat berpesta marie dengan saos sirup yang kami buat sendiri.

Hidangan ini selalu menemani meja makan kami tiap tahun. Pernah suatu kali ada bibi yang memasakkan rendang, tapi kami merasa kurang pas dengan hidangan bersantan kental. Kami lebih suka dagin sapi ala rawon atau bumbu bali yang kental.

Harap-harap Cemas Menunggu Pengumuman

Sejak lebaran sering berbeda, kami selalu cemas menunggu pengumuman pemerintah. Selepas sholat Isya kami menunggu pengurus masjid menyalakan radio. Jika pemerintah mengumumkan lebaran lusa maka kami meneruskan tarawih, tapi jika besok lebaran maka saya cepat pulang dan membantu Ibu mempersiapkan makanan.

Namun, ada kalanya situasi berbalik. Ketika kami sudah tidur nyenyak, dini hari sudah ada yang bertakbir. Kami kebingungan. Keesokan harinya beberapa saudara dan sebagian tetangga sudah merayakan lebaran. Kami bingung meneruskan puasa atau tidak. Beberapa kali hal tersebut terjadi sehingga lama-kelamaan kami terbiasa dengan adanya perbedaan hari lebaran tersebut.

Takbiran

Setelah berpuasa sebulan penuh, yang ditunggu-tunggu oleh kami adalah malam takbiran. Saya pernah ikut takbir keliling dua kali dan menyenangkan. Semakin ke sini memang terasa lebih sepi. Masjid dekat rumah juga lebih suka menggunakan kaset rekaman. Jika tidak ikut takbir keliling, saya bersama kakak asyik bermain kembang api atau menyalakan air mancur.

Hore lebaran besok tiba.

 

gambar diambil dari: artikelpendek.wordpress.com

~ oleh dewipuspasari pada Juli 27, 2014.

2 Tanggapan to “Sambut Idul Fitri: Berburu Baju Hingga Mengelap Kaca”

  1. tradisi lebaran… 🙂

Tinggalkan komentar