Hari Raya Kupat: Saling Berbagi Ketupat

ketupat-jakartapress

Di Malang atau mungkin di daerah Jawa Timur lainnya dikenal memiliki peringatan hari raya kupat. Ya, di hari ini sebagian warga merayakan enam hari setelah Idul Fitri dengan saling berkirim ketupat. Jika Idul Fitri dihelat setelah 29/30 hari berpuasa, hari raya kupat digelar selepas sebagian umat Islam berpuasa enam hari pada bulan syawal.

Ketupat memang bukan menu wajib saat tepat hari H Idul Fitri. Banyak juga tetangga yang menyajikan menu berbeda, seperti rawon, gulai, atau malah menu yang ringan seperti rujak dan bakso.

Menjelang hari raya kupat, penjual janur dan ketupat yang sudah jadi marak dijumpai di pasar. Kakak saya cukup ahli membuat ketupat, sementara saya dan kakak lebih asyik mengambil janur untuk dibuat pedang-pedangan. Kemampuan saya membuat ketupat nol. Saya lebih suka membantu memasak opor, sambal goreng hati dan kentang, atau membantu mengupas telur untuk dibuat telur petis.

Rasanya lebaran di kampung cukup meriah. Hampir setiap tetangga saling berkirim hantaran berupa ketupat dengan lauk ataupun hanya ketupat utuh, lontong, dan kue mirip celorot. Yaitu kue yang terbuat dari beras ketan, santan, dan butiran kacang merah. Kemudian dililit dengan daun. Mirip lontong. Tapi rasanya jauh lebih gurih. Awalnya saya kurang suka dengan kue ini, tapi semakin besar saya menyukai rasanya yang gurih.

Kadang-kadang pada hari raya kupat ini diadakan halal bihalal sekampung. Ya selepas hari raya ada banyak acara halal bihalal yang asyik dikunjungi. Kadang ada yang mengadakan door prize untuk menambah semarak acara. Beberapa waktu lalu saya mendapatkan seperangkat cangkir. Hehehe lumayan.

gambar diambil dari: jakartapress.com

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 4, 2014.

Tinggalkan komentar