Tentang Film Puteri Gunung Ledang dan Kaitan dengan Sejarah
Omong-omong kalian pernahkah mendengar legenda tentang Gunung Ledang, sebuah gunung di Johor, Malaysia? Jika belum pernah dengar, sama dengan aku. Konon ada seorang puteri cantik yang tinggal sendirian di puncak gunung tersebut. Nah, cerita tentang sosok puteri tersebut rupanya ada filmnya, judulnya Puteri Gunung Ledang. Yang bikin penasaran dari film ini, sosok puteri Gunung Ledang ini dikabarkan adalah seorang puteri dari Majapahit.
Dikisahkan sang puteri Majapahit, Gusti Putri Raden Ajeng Retno Dumilah (Tiara Jacquelina) jatuh cinta dengan Laksamana Hang Tuah (M. Nasir). Ia terus menunggu kedatangan Laksamana Hang Tuah. Ketika kekasihnya tak kunjung datang menjemputnya, ia memutuskan datang menghampiri. Ditemani pengawal dan dayangnya, Bayan (Christine Hakim) ia menuju Gunung Ledang. Ia kemudian memutuskan tinggal seorang diri di sana sambil menunggu kedatangan kekasihnya.
Sementara itu Gusti Adipati Handaya Ningrat (Alex Komang), raja Majapahit, kakak Putri Retno Dumilah resah dengan serangan Kesultanan Demak. Ia hendak menawarkan pernikahan politik, mengajukan adiknya dengan sultan Demak. Ia marah ketika mengetahui adiknya menghilang tanpa sepengetahuannya.

Puteri Gunung Ledang telanjur jatuh hati dengan Hang Tuah
Ia kemudian berupaya menjalin hubungan dengan Kesultanan Malaka dengan memohon kepada adiknya untuk rela berkorban demi tanah airnya. Awalnya Putri Retno Dumilah enggan, demi cintanya kepada Hang Tuah. Namun kemudian ia menerima lamaran dari Sultan Malaka, Sultan Mahmud Shah (Adlin Aman Ramlie) dengan memberikan persyaratan yang berat.
Film yang Menarik Namun Keakuratan Sejarah Diragukan
Ketika menemukan film ini saat iseng-iseng mencari film yang diperankan Christine Hakim dan Dian Sastro, aku terkejut sekaligus penasaran, karena belum pernah mendengar film ini sama sekali. Ini adalah film Malaysia dengan aktor dan aktris, serta kru dominan dari Malaysia. Aktor dan aktris Indonesia yang bergabung hanya Alex Komang, Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, dan Slamet Rahardjo.
Dian Sastro hanya muncul sebagai cameo, menjadi anak penjual obat-obatan, dengan penampilan polos tanpa makeup dan busana jaman dulu. Peran lebih besar ada di Slamet Rahardjo dan Christine Hakim sebagai penasihat raja dan datang puteri. Nah, Alex Komanglah di sini yang tampil cukup menonjol sebagai raja Majapahit.

Puteri Gunung Ledang berani menolak lamaran Sultan Malaka
Film ini sendiri dirilis tahun 2004 dengan cerita dan skenarip yang ditulis oleh Mamat Khalid dan Saw Teong Hin. Sutradaranya adalah Saw Teong Hin. Sedangkan produsernya adalah Shazalli Ramly dan Tiara Jacquelina. Sepertinya ceritanya banyak bersumber dari Hikayat Hang Tuah dan Legenda Puteri Gunung Ledang.
Hal menarik kedua karena meskipun legenda tapi ada tiga kerajaan dan sosok asli yang disebutkan di film ini. Laksamana Hang Tuah, Sultan Mahmud Shah dan permaisuri Tun Teja adalah orang-orang yang memang tercatat di sejarah. Demikian pula dengan Kesultanan Malaka, Kerajaan Demak, dan Kerajaan Majapahit. Cerita ini sendiri berlatar penyerangan Demak dan ketika Hang Tuah berkarier sebagai panglima Kesultanan Malaka.
Nah meski ceritanya menyangkut puteri dan raja Majapahit, tapi keakuratan sejarahnya sangat diragukan. Nama puteri dan raja Majapahitnya sulit diketahui kebenarannya. Retno Dumilah malah disebutkan sebagai bupati perempuan Madiun (Purabaya) pada tahun 1568. Jauh bertahun-tahun dari peristiwa tersebut, jika menilik masa kekuasaan Sultan Mahmud Shah (1488-1528) memang sedang terjadi penyerangan Demak ke Majapahit.
Memang di Hikayat Hang Tuah dan cerita dari Majapahit, ada puteri Majapahit yang dinikahkan dengan Sultan Malaka tapi anehnya putri tersebut diantar oleh Patih Gajah Mada. Padahal jika melihat sejarah Gajah Mada, ia lahir dan meninggal pada tahun 1290 dan 1364. Jadi tidak sejaman dengan Hang Tuah dan Kesultanan Malaka belum berdiri.

Puteri Gunung Ledang hanya mencintai Hang Tuah
Ehm meski keakuratan sejarahnya dipertanyakan, film ini tetap menarik sih. Sepertinya di sini cerita utamanya adalah Hikayat Hang Tuah karena memang ada bagian dari Hikayat Hang Tuah yang banyak muncul di sini seperti keris Taming Sari miliknya yang sakti. Ia juga disebutkan pernah bertemu dengan Raja Majapahit Singhawikramawardhana. Nah andaikata cerita legenda Putri Gunung Ledang ini benar, maka raja Majapahit di sini adalah putra Singhawikramawardhana yang bergelar Girindrawardhana atau Sri Wilwatikta. Karena pada masa ini Raden Patah mulai menyerang Majapahit
Hal yang menarik lainnya dari film ini adalah gambaran keraton Majapahit yang sederhana, kebalikan dengan Kesultanan Malaka yang nampak lebih megah. Di sini Demak juga nampak tak sabaran menyerang Majapahit.
Raja Majapahit, Sultan Malaka, Hang Tuah, dan Puteri Gunung Ledang juga digambarkan sosok yang punya kekuatan supranatural, seperti teleportasi, astral, dan memberikan kutukan. Ada kalanya mereka beradu kemampuan aji kanuragan.
Nah, sosok Retno Dumilah ini menarik karena meski seorang perempuan, ia berani tinggal sendirian di puncak gunung yang belum pernah didatanginya. Ia juga punya kekuatan supranatural, bisa melakukan kekuatan astral, bertemu dengan Hang Tuah dan Sultan Malaka. Ia juga tak takut berhadapan dengan musuh dengan kemampuan magisnya, mengubah sosok dirinya dan mengendalikan alam.

Puteri Gunung Ledang seorang puteri Jawa yang sakti
Oh iya persyaratan dari sang puteri memang sengaja dibuat berat. Ada tujuh syarat. Pertama, jembatan emas dari Malaka ke Gunung Ledang. Kedua, jembatan perak ke arah sebaliknya. Ketiga, tujuh nampan (dulang) hati nyamuk. Keempat, tujuh nampan (dulang) hati kuman. Kelima, tujuh tempayan sari pinang muda. Keenam, tujuh tempayan air mata anak dara (perawan). Dan ketujuh, semangkuk darah Sultan Ahmad, putra satu-satunya Sultan Mahmud Shah yang masih anak-anak. Rupanya ia memberikan persyaratan berat karena tujuannya untuk menolak lamaran. Ia datang secara teleportasi ketika sultan hendak melukai putranya, menggagalkannya.
Film ini menarik karena membuatku memeriksa banyak catatan sejarah. Film ini menggunakan bahasa Melayu, bahasa Jawa, dan bahasa Indonesia. Oh iya ada musik berirama Melayu dan Nusantara. Dialognya juga sebagian puitis.
Kalian bisa menyaksikannnya di Netflix. Oh iya aku baru ngeh jika pemeran Putri Gunung Ledang ini ketiganya juga tampil di Pasir Berbisik, ada Dian Sastro, Christine Hakim, dan Slamet Rahardjo. Mungkin pihak rumah produksi Malaysia, Enfiniti Productions, dan produsernya jatuh cinta dengan akting mereka sehingga mengajak mereka bergabung.

Puteri Gunung Ledang tak takut berjumpa dengan Sultan Malaka seorang diri
Gambar dari Enfiniti Productions
