Banyu Biru, Cerita Absurd tentang Pertemuan
Sekitar tahun 2005-2010, ada banyak film Indonesia yang bisa dibilang unik, baik dari segi cerita maupun eksekusinya. Mungkin karena pada masa tersebut film Indonesia baru mengalami kebangkitan sehingga ide-idenya pun segar, termasuk film satu ini, Banyu Biru yang naskahnya ditulis oleh Rayya Makarim dan Prima Rusdi.
Ceritanya berpusat pada sosok Banyu (Tora Sudiro) yang masih menyimpan kekecewaan kepada ayahnya, Yuskar (Slamet Rahardjo). Ia merasa ayahnya bertanggung jawab kepada peristiwa yang menewaskan adiknya, Biru, dan ibunya yang depresi lalu meninggal. Ia merasa ayahnya tak pernah peduli kepada keluarga dan hanya mementingkan dirinya.
Banyu saat ini bekerja sebagai pekerja di sebuah hypermarket bagian keluhan pelanggan. Saat di sebuah seminar ia merasa bosan dan memutuskan untuk pulang bertemu ayahnya.
Cerita dan Visual yang Absurd
Film Banyu Biru yang dirilis tahun 2005 merupakan debut Teddy Soeriaatmadja menyutradarai film panjang. Menurutku film-filmnya Teddy menarik-menarik, seperti Ruma Maida, Menunggu Pagi, dan Lovely Man.
Film Banyu Biru memiliki banyak komponen komedi, dari pelanggan yang bonekanya tak berhenti mengoceh, pengajar di seminar yang eksentrik, dan juga sosok yang hendak bunuh diri tapi gagal setelah mobilnya diperbaiki oleh Banyu. Alhasil ceritanya lumayan menarik meski ada beberapa adegan yang editingnya agak kurang rapi sehingga terkesan loncat-loncat.
Ada beberapa sosok menarik yang dijumpai oleh Banyu. Si antaranya si paman yang melangsungkan pernikahan kelima yang diperankan Didi Petet. Lalu ada Dian Sastro yang berperan sebagai Sula. Dan yang paling mencuri perhatian adalah Butet Kertaradjasa sebagai pengajar seminar dan petugas agen perjalanan. Ia menjadi dua sosok yang eksentrik.
Dari segi grading, warnanya sengaja dibiarkan dominan kuning kejinggaan. Situasi ini sebenarnya agak menganggu karena si pelaku seperti dalam mimpi. Tapi ups spoiler ternyata memang ada beberapa adegan yang memang adalah mimpi dan kenangan masa lalu.
Adegan paling menarik menurutku ketika Banyu terombang-ambing di kapal nelayan di tengah lautan dengan sosok Butet berdiri angkuh. Ini adegan terasa komikal namun juga seperti penggambaran situasi Banyu yang kebingungan dan cemas.
Cerita yang absurd ini juga jadi menarik berkat jajaran pemainnya. Semua pemain di film ini bekerja ekselen dalam menyampaikan pesan dalam film ini, termasuk sosok Ladya Cheryl sebagai peramal misterius dan Oscar Lawalata sebagai waria bernama Arief. Tora Sudiro juga berhasil menghidupkan sosok Banyu yang nampak bingung dan terbebani. Kalian bisa menyaksikan film berdurasi 78 menit ini di Netflix.

Oh iya Rayya Makarim yang merupakan saudara dari Nadiem Makarim rupanya penulis skenario yang jempolan. Ialah penulis skenario Pasir Berbisik, Jermal, 27 Steps of May, dan Berbalas Kejam.
Gambar dari Indonesian Film Center dan Netflix
