The Marvels: Keluarga Kamala dan Flerken Selamatkan Cerita
Captain Marvel alias Carol Danvers (Brie Larson) kembali mendapatkan panggung. Tapi kali ini ia tidak berjuang sendirian, melainkan mengajak ‘keponakannya’, Monica Rambeau (Teyonah Parris) dan remaja pemujanya, Kamala Khan (Iman Vellani) alias Ms. Marvel. Gara-gara sebuah peristiwa, mereka jadi saling bertukar posisi dan kemudian melawan musuh yang sama dalam film The Marvels.
Film ini memiliki kini waktu pasca kejadian Kamala Khan menjadi Ms. Marvel dan setelah peristiwa di Secret Invasion yang keduanya tayang berseri di Disney Plus. Sebuah anomali diakibatkan Dar-Benn, pemimpin baru Kree, di mana Monica dan Carol memeriksanya. Ketika menyentuh cahaya misterius itu keduanya saling bertukar tempat, eh bukan hanya keduanya, melainkan juga Kamala. Ketiganya secara acak bertukar posisi ketika menggunakan kemampuannya.
Rupanya Dar-Benn menemukan gelang kuantum yang bisa membantunya membuat titik lompat semacam teleportasi. Gelang tersebut persis sama dengan yang dimiliki Kamala. Dengan kemampuannya itu, ia memindahkan sumber daya alam dari planet lain ke planetnya, Hala, yang sekarat. Carol dkk kemudian memikirkan cara untuk mencegah perbuatan Dar-Benn.
Ceritanya Agak Membosankan dan Beberapa Bagian Bikin Bingung
Apa kalian sudah merasa jenuh dengan film superhero? Terus terang aku sudah mengalaminya. Aku menguap melulu ketika menonton Ant-Man 3, Blue Bettle, dan Shazam 2. Aku bosan selama menonton series Secret Invasion dan memutuskan tidak melanjutkan untuk menonton series Hawkeye dan Loki 2.
Ceritanya mulai membosankan, ada yang ceritanya klise seperti perulangan, tapi sebagian seperti sengaja dibuat rumit padahal kosong. Mungkin aku sudah terlalu jenuh ya.
Sebenarnya aku juga enggan menonton The Marvels. Hanya karena rasa penasaran dengan kelanjutan cerita superhero Marvel jadi menontonnya. Tapi mungkin ke depan aku menunggunya saja tayang di Disney Plus, sambil menunggu era Kang muncul.
Spoiler Alert!!!
Nah cerita di The Marvels ini agak bertele-tele. Kurang kuat alasan Monica di awal bersikap dingin ke Carol, demikian juga dengan sikap Carol yang masih saja menjaga jarak ke orang-orang di sekitarnya, kecuali ke Nick Fury, padahal ia adalah anggota Avengers.
Di sini entah kenapa kekuatan Captain Marvel sepertinya tidak konsisten. Ia malah nampak melemah, jika dibandingkan di film pertama ia muncul yang overpowered.
Beberapa bagian cerita seperti perulangan konflik Marvel pada umumnya. Biarkan planet yang tak bersalah menjadi tumbal, tinggal evakuasi atau biarkan saja karena tugas lain lebih penting. Atau, munculkan planet dengan segala keeksotisannya agar penonton lupa jalan ceritanya amburadul.
Aku masih tak mengerti mengapa ada sebuah planet yang udaranya sudah beracun, tak ada air, dan tak ada matahari masih bisa ditempati? Kalau masih berpolusi seperti di Jakarta mungkin warganya masih bandel untuk tinggal sepertiku, tapi nggak ada air dan matahari?!
Jalan cerita terasa dipanjang-panjangkan dan sebagian konflik sudah bisa ditebak. Namun ya, setidaknya masih ada hiburan menarik dari The Marvel, apalagi kalau bukan dari keluarga Kamala yang wajar dan lebih membumi. Si ibu cerewet seperti ibu-ibu Asia pada umumnya. Si ayah dan si kakak juga ikut serta dalam komplotan keluarga yang meriah. Celetukan mereka masih bisa membuat senyum.
Adegan mereka bertukar posisi juga seru sehingga masing-masing superhero punya porsi panggung yang pas dan cukup untuk menunjukkan kekuatannya. Kekuatan Kamala yang mampu membuat benda dari kekuatan cahayanya ini mengingatkan pada Green Lantern dengan kekuatan cincinnya.
Dan bagian yang hidup tentu saja adalah Goose, si flerken berbentuk kucing yang aneh. Ia tak sendiri dan ini bikin gemas bagi para pecinta kucing. Mungkin malah pencuri perhatian di sini adalah Goose.
Oh iya ada beberapa bagian yang bikin bingung. Kakak Kamala bukannya sudah menikah ya di serialnya atau baru bertunangan? Lalu Fury nampaknya sudah tak merasa kehilangan setelah sahabat dan anak buahnya yang paling setia, Talos dan Maria Hill meninggal. Ini yang bikin aku bingung dengan lini waktunya. Tentang sosok-sosok di adegan terakhir dan mid-credit aku tidak begitu antusias, entahlah.
Andai tak ada keluarga Kamala dan flerken aku mungkin bisa jadi ketiduran selama nonton. Wah kapan ya film superhero kembali terasa menyenangkan seperti menyaksikan Avengers yang pertama atau ketika menyaksikan serial animasi DC Comics.
Skor The Marvels: 60/100
Gambar dari Marvel Studio
