Past Lives, Kisah Cinta Masa Lalu dan Masa Kini

Past livesNa-young dan Hae-sung bertemu lagi di New York setelah 24 tahun berpisah. Na-young yang telah berganti nama menjadi Nora, sejak usia 12 tahun meninggalkan Korea Selatan. Kini ia telah menikah, sedangkan Hae-sung masih lajang. Akankah pertemuan tersebut bakal mengubah takdir keduanya? Film romantis berkaitan dengan berbagai kemungkinan dan takdir ini tersaji dalam drama Korea berjudul Past Lives yang tayang di bioskop sejak 15 November 2023.

Di awal film, penonton disuguhi dengan adegan ketiga tokoh di sebuah bar. Ketiganya adalah Nora (Greta Lee), Hae-sung (Teo Yoo), dan Arthur (John Magaro), suami Nora. Narator yang merupakan salah satu pengunjung bar tersebut menebak-nebak hubungan ketiganya melihat gestur ketiganya. Apakah Nora dan Hae-Sung adalah pasangan suami istri yang sedang berlibur dan Arthur adalah pemandu wisata mereka. Atau, Nora dan Arthur pasangan suami istri sedangkan Hae-Sung adalah saudara perempuan tersebut.

Cerita kemudian flashback ketika Na-young dan Hae-Sung masih berusia 12 tahun. Hae-Sung nampak kesal ketika Na-young mengumumkan kepindahannya di kelas, tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Dua belas tahun kemudian, Hae-sung mencari Na-young/Nora dan keduanya kemudian aktif berkomunikasi di dunia maya, hingga Nora ingin memiliki waktu untuk sendiri.

Past lives
Cerita Cinta yang Terasa Realistis
Ada begitu banyak film bergenre romantis, baik drama Korea, film Hollywood, maupun film mancanegara lainnya. Past Lives membuat penasaran karena film ini tayang perdana di Sundance Film Festival 2023 dan banyak mencuri perhatian ketika tayang di Jakarta Film Week 2023.

Past Lives seperti judulnya menggunakan konsep In-yun atau takdir untuk menggerakkan ceritanya. Apakah seseorang yang dulunya pasangan akan dipertemukan lagi di kehidupan berikutnya? Apakah ada kemungkinan-kemungkinan lain jika seseorang memilih jalan hidup yang berbeda?

Tentang konsep ini aku jadi ingat film romantis lawas berjudul Serendipity yang menggunakan unsur kebetulan dan takdir sebagai penggerak cerita. Hanya cerita Past Lives terasa lebih riil dan membumi. Mungkin di antara kita ada yang pernah mengalami betapa jauh dan sulitnya berkomunikasi dengan kawan saat SD atau SMP setelah lama berpisah dan tinggal di kota berlainan, padahal bisa jadi dulu aku dan dia cukup akrab.

Hati-hati spoiler!

Di momen pertemuan setelah mereka berpisah 12 tahun, Nora nampak sulit mengetik dengan bahasa Korea dan bercakap-cakap dengan bahasa Korea. Rupanya hal ini dikarenakan ia tak punya teman mengobrol berbahasa Korea setelah pindah ke luar negeri, hingga ia merasa kaku bercakap dan mengetik dengan bahasa Korea. 

Past lives
Tapi entah kenapa kemudian ia frustasi sendiri dan memutuskan tali komunikasi dengan Hae-sung. Keduanya kemudian memiliki pasangan masing-masing. Hingga 12 tahun kemudian Hae-sung ingin berjumpa dengan Nora hanya untuk memastikan tempatnya dan mempertimbangkan banyak kemungkinan.

Sebenarnya karakter Nora yang agak egois sudah tergambar sejak kecil. Ia menangis ketika kalah ranking dari Hae-sung. Ia juga mengambil nama yang diinginkan adiknya ketika hendak pindah ke luar negeri, namun untunglah orang tuanya kemudian mengusulkan nama Nora. Ia juga punya jiwa pemberontak dan ingin terus meraih prestasi. Sehingga memang karakter Hae-sung yang kalem dan tak terlalu ambisius, kurang cocok dengan Nora.

Tapi sebenarnya film ini bukan hanya obrolan tentang karma ataupun cinta masa kanak-kanak. Hal yang memperlebar jurang antara Nora dan Hae-sung adalah budaya. Nora sudah merasa tak cocok dengan budaya patriarki di Korea dan hal-hal yang umum di sana. Ini tergambar dari dialognya bersama suaminya, Arthur. Ia menyayangkan Hae-sung yang masih tinggal bersama ibunya.

Perbedaan cara pandang dan pilihan hidup ini juga bisa dilihat dari adegan ketika keduanya berpisah pada masa kecil. Na-young berjalan menaiki anak tangga, sedangkan Hae-Sung berjalan ke arah berbeda dengan jalan yang datar. Ini seperti sebuah simbolisasi. 
Past livesYa, menyaksikan film Past Lives memang jalan ceritanya terasa realistis. Cinta tak bisa sekadar romantisasi masa lalu ataupun khayalan akan hal-hal romantis seperti yang ada di film-film. Jarak, budaya, dan lingkungan pergaulan bisa memperlebar hubungan yang dulunya akrab menjadi renggang.

Namun bukan berarti film yang dibesut Celine song ini luar biasa. Menurutku malah film ini agak overated, masih banyak film drama romantis yang jauh lebih bagus. Tempo film A24 ini berjalan lambat sehingga penonton harus bersabar. Beberapa bagian terasa datar. Visualnya juga apa adanya. Dan sayangnya konsep In-yun ini kurang tereksplorasi.

Tapi untuk menggambarkan kisah cinta yang realistis dan apa adanya, Celine song telah berhasil. Ini juga film yang bagus untuk ukuran debutnya sebagai sutradara.

Skor: 7/10.

Gambar dari IMDb, Guardian

~ oleh dewipuspasari pada November 20, 2023.

Tinggalkan komentar