Cindil Pun Steril
Si Singka, anak Cindil sudah berusia hampir enam minggu. Setelah lama menimbang-nimbang dan karena sering kecolongan, kuputuskan untuk membawa Cindil ke klinik. Tujuannya untuk steril. Kami sudah kebanyakan kucing. Aku juga kasihan ke Cindil yang sudah capek menyusui.
Sebelum steril, Cindil harus puasa. Ia benar-benar puasa makan dan minum pada pukul tujuh pagi. Setelahnya ia kubawa ke klinik. Karena ia kucing betina maka rahimnya akan diangkat. Setelah operasi, Cindil akan menjalani rawat inap agar kondisinya bisa dicek dengan lebih intensif.
Aku tak rela meninggalkan Cindil dalam klinik. Ingin rasanya menemaninya. Apalagi ia nampak sedih. Tapi apa boleh buat, demi kesehatan Cindil sendiri. Si Samsudin nampak lebih sehat dan lebih cantik setelah steril. Jika Cindil punya tiga anak yang masih hidup hingga kini, si Sam kehilangan semua anaknya. Panda masih kuanggap hilang hingga kini.
Operasi steril Cindil dibarengi dengan pembersihan gigi. Si Cindil suka nampak kesakitan saat makan, rupanya ada masalah pada geliginya. Oleh dokter disarankan untuk juga diperiksa dan dibersihkan giginya.
Petang hari Cindil sudah selesai dioperasi. Aku merasa lega. Dari gambar-gambar yang dikirim, Cindil mulai stabil. Ia mulai doyan makan meski masih sedikit-sedikit. Lukanya sudah ditutup. Besok siang ia bisa kujemput pulang.
Berikutnya aku harus mengumpulkan uang agar bisa membawa semua kucingku untuk vaksin. Baru empat kucing yang sudah vaksin rabies, lainnya belum sama sekali. Aku ingin mereka panjang umur dan sehat selalu bersamaku.
