Terhibur Sekaligus Refresh Materi Skenario Film Lewat Jatuh Cinta Seperti di Film-film
Tembang Anything You Want dari Reality Club mengalun mengisi ruang yang kutempati bersama kucing-kucing. Lagu ini membuatku teringat dengan setiap adegan dalam film Jatuh Cinta Seperti di Film-film.
Film ini membuatku tersentil akan materi yang pernah kuterima saat belajar membuat skenario film. Ada yang membagi skenario ke dalam tiga babak, yaitu pengenalan, konflik atau aksi, dan konklusi. Namun, ada juga yang membaginya ke dalam delalapan babak atau yang lazim disebut sequence. Delapan sequence ini banyak digunakan, terutama di film panjang.
Yandy Lauren lewat tokohnya bernama Bagus, seolah-olah menjadi guru yang mengajarkan materi skenario film dan pengantar film. Ia mengajak penonton memahami tiap sequence dalam film dan langsung mencontohkannya ke para penonton.
Tak lupa Ia juga memasukan sentilan ke dunia film nasional, seperti masih maraknya pembajakan, dengan dialog Bagus yang menyeletuk soal Lebah Ganteng. Kemudian penulis skrip yang mencoba berkompromi dengan produser dan kemauan pasar. Jika ada film laris maka tak masalah toh dibuat sekuel atau adaptasinya berulang-ulang hingga pasar jenuh?
Tapi sebenernya tentang apa film Jatuh Cinta Seperti di Film-film yang naskahnya juga ditulis oleh Yandy? Film ini bercerita tentang Bagus (Ringgo Agus Rahman) yang berjumpa kembali dengan kawan semasa sekolahnya. Hana (Nirina Zubir), namanya. Hana baru kehilangan suaminya, ia masih berduka.
Bagus berjuang untuk mendapatkan cinta Hana. Tapi ia punya cara sendiri untuk menarik perhatian Hana, yaitu lewat hal yang dikuasainya. Ia menuangkannya lewat skenario film yang akan dibuat film. Tapi etiskah membuat skenario dari tokoh yang nyata dan dialog yang juga riil tanpa meminta ijin ke Hana?
Sebuah Film yang Unik
Sebenarnya tak sedikit film dan serial drama percintaan yang tokoh utamanya berusia 40 tahun. Ada Laws of Attraction (2004) yang dibintangi Julianne Moore dan Pierce Brosnan, The 40-Year-Old Virgin (2005) dengan sosok Steve Carell, The Holiday (2006), The Man Who Can’t Get Married Yet (2006) , dan masih banyak lagi. Menurutku kisah cinta usia matang juga tak kalah menarik dengan cerita cinta masa remaja dan masa muda. Semuanya tergantung cerita dan kemasannya. Dan, menurut Jatuh Cinta Seperti Film-film juga menarik dan unik dalam mengemas kisah cinta tersebut.
Sepertinya jarang ada cerita drama percintaan di Indonesia yang mengunakan hitam putih pada sebagian besar ceritanya. Kalau di film manca sih di antaranya digunakan untuk perioderisasi waktu, membedakan dengan kondisi masa kini.
Nah di film ini Bagus menawarkan skenario film kepada pemilik rumah produksi, Yoram (Alex Abbad) untuk mengemas karyanya dalam format hitam putih. Sesuatu yang unik dan sinematik.
Penggunaan warna ini ternyata tak hanya agar film ini jadi terasa unik dan sinematik, tapi ada sesuatu yang lain dan menjadi bagian plot twist dalam film ini. Selain cerita yang segar, film ini jadi apik berkat perfoma akting para jajaran pemainnya, dari Ringgo Agus, Nirina, Alex Abbad, juga pasutri Celine dan Dion yang diperankan Sheila Dara dan Dion Wiyoko.
Meski tidak wow banget, Jatuh Cinta Seperti di Film-film membuat kalian terhibur dan mendapatkan ‘kuliah’ bermanfaat tentang pembabakan dalam skenario film. Lagu-lagu dalam film ini juga pas dan selaras dengan ruh film dari Anything You Want (Reality Club), Bercinta Lewat Kata (Donne Maula), Sudut Memori (Yura Yunita), hingga Come & Go (Giovanni Rahmadeva dan Christabel Annora). Skor: 7.8/10.

Gambar dari IMDb/Imajinari
