Cemas
Hal yang paling kucemaskan adalah ketika kucing-kucing sakit dan lemas. Ada wabah sakit mata yang menimpa tiga kucing di rumah. Awalnya kuobati dengan salep mata dan obat tetes mata, tapi tak kunjung sembuh malah makin parah. Ketika kubawa ke dokter, obat salep matanya diganti dengan yang lebih keras.
Kasihan Cindil, tepi matanya sampai meradang. Singka juga parah. Keduanya jadi kurang doyan makan. Si Clara baru satu mata yang ketularan. Alhasil seharian ini aku berkutat memberikan mereka salep dan obat. Yang paling susah si Cindil, aku beberapa kali kena tendangan dan pukulan. Belum lagi obat yang enggan ditelan.
Ujianku bertambah dengan Opal yang pilek parah. Kemarin aku sampai dua kali ke klinik. Yang kali kedua aku membawa Opal. Ia sempat kabur ke rumah tetangga. Ketika kutemukan kondisinya parah. Hidung penuh ingus yang kental dan kering. Matanya juga basah dan kotor. Duh. Setelah kubersihkan ia diuap di klinik. Dokter hanya memberinya vitamin karena Opal terlalu sering minum obat dan ia pernah kena FIP.
Apesnya lagi kemarin sinyal hape jelek bukan main. Akhirnya aku pulang jalan kaki membawa Opal yang beratnya hampir lima kilogram. Jalanan yang ramai dan Opal yang berat membuatku 20 menitan berjalan kaki. Lebih lama dari biasanya. Lumayan olah raga malam-malam.
Tapi yang membuatku cemas, sangat cemas malam ini adalah kondisi Opal yang tiba-tiba begitu drop. Hari ini ia tak mau makan dan bersembunyi. Lalu kulihat deru nafasnya begitu kencang. Tidak seperti biasanya.
Mau ke dokter tapi sudah kemalaman. Akhirnya aku hanya bisa rajin membersihkan ingusnya dan membuatnya nyaman. Kuelus-elus ia dan kudoakan agar ia kuat dan bertahan.
Malam ini adalah masa kritisnya. Aku takut dan cemas. Semoga Opal bisa bertahan.

Tetap semangat, Mbak Puspa! Semoga para anabul di rumah Mbak cepat sembuh kembali, Aamiin YRA.
Ehm Opalnya nggak bertahan. Moga-moga mata tiga kucing cempat sembuh. Amiin. Terima kasih doanya.