Terik
Aku mencoba berdamai dengan terik
Kuguyur tubuhku dengan air
Namun hawa panas itu tak berhenti
Ia masih terus menyiksa diri
Kulihat langit senja
Cerah, tak ada awan hitam
Aku bertanya-tanya
Apakah terik juga memanipulasi senja
Sampai sinar matahari tak bersisa
hawa panas masih menggila
Padahal aku sedang tak di Jakarta
Terik ini aku susah mengalahkannya
Aku mencoba berkomunikasi dengan terik
Ada apa denganmu terik, kenapa kau hadir
Terik malah balik bertanya kepadaku
Siapa kau berani mengatur kehadiranku
Ya terik tak bersalah
Toh kota ini yang sukarela
membiarkan terik makin merajalela
Kota ini makin tak ramah lingkungan
Penghuninya juga kurang upaya
Ketika makin sering banjir mereka seperti pasrah
Ketika terik makin berkuasa
Mereka hanya bingung kenapa kotaku jadi panas
Terik apakah kau bakal makin berwenang?
Ya, jika kau membiarkan pembangunan seenaknya
Huuhu aku yakin terik bakal menang
Jika kota ini makin tercengkeram ‘pembangunan’
Gambar milik Pexels/Brett Sayles
