Mencuci Kaleng Wadah Makanan Kucing
Kucingku dulu pernah mencapai 16 ekor. Rasanya saat itu aku sudah menjadi asisten kucing melayani mereka seharian. Mereka makan hampir sepanjang hari, karena jam kedatangan mereka tak persis sama. Setiap kucing rata-rata makan hingga empat kali sehari. Alhasil kaleng bekas makanan kucing begitu banyak.
Awal-awal punya kucing, aku tak begitu repot. Biasanya aku memasak nasi dan lauk untukku dan mereka. Makananku ya makanan mereka. Sehingga, menu makanan di rumah hampir selalu ada ikan dan telur.
Ya, dulu kucingku makan nasi campur ikan. Hingga kemudian aku mulai sibuk dan selalu menyiapkan makanan kering dan basah.
Sejak era Kidut junior alias Cindil, aku mulai sering membeli makanan basah. Si Cindil tak suka makanan kering, meski ia tak menolak jika kuberikan nasi campur ikan.
Setelah ayah meninggal dan pandemo berlanjut, kucing-kucing makin banyak. Aku makan kelimpungan menyediakan mereka makanan. Nasi ikan saja tak cukup karena ada kalanya aku sibuk. Yang terjadi kemudian aku pun memiliki stok makanan basah dan makanan kering. Bahkan aku pernah membeli makanan kucing 25 kg yang sungguh berat dan satu dus makanan basah kalengan.
Karena mulai kepayahan bekerja, membersihkan rumah, dan mengurus kucing, kaleng-kaleng makanan tersebut kubuang begitu saja. Sampah pun cepat menumpuk karena petugas sampah di lingkungan rumah hanya datang seminggu dua kali. Ada kalanya sudah muncul sesuatu yang bikin geli jika petugas sampah tak kunjung datang.
Saat kucing lagi banyak-banyaknya, aku sampai perlu dua kantong besar untuk sampah kaleng dan pasir kotoran mereka, juga buat sampah harian. Aku keberatan mengangkutnya ke depan, was-was plastiknya robek.
Hingga suatu ketika aku menyadari bahwa kaleng bekas itu berbahaya. Pinggirannya tajam, terutama tutupnya. Aku jadi cemas. Kasihan jika ada kucing liar membuka sampah tersebut. Kasihan jika petugas sampah terluka ketika memilah sampah.
Akhirnya sejak beberapa bulan silam, aku mulai mencuci wadah bekas makanan kucing. Setelah kucuci bersih, kaleng kubiarkan mengering.
Bagian tutup dan wadahnya kupisahkan. Tutupnya yang tajam kumasukkan ke wadah lain agar si petugas sampah tidak terluka.
Satu hari bisa ada 3-4 kaleng bekas kini mengingat kucingku kini hanya lima ekor. Mereka juga menyantap makanan kering dan aku mulai rajin memasak lagi, sehingga sesekali kuberi ayam rebus, ikan rebus, dan nasi ikan goreng.
Petugas sampah nampak senang melihat satu wadah plastik besar berisi kaleng-kaleng yang telah bersih. Kaleng tersebut bisa mereka jual. Selain kaleng aku juga memasukkan kardus dan wadah plastik yang tak lagi kugunakan. Semuanya sudah kubersihkan dulu.
Jika dulunya sampah sachet plastik jarang kupilah, kini kupilah juga. Semua plastik dan yang bisa didaur ulang semua kupisah dan kujadikan satu wadah. Memang sih jadi agak merepotkan tapi tak mengapa.
Sementara sampah bahan memasak, seperti cangkang telur, bagian sayur dan buah yang tak dipakai kukumpulkan lalu kubuat kompos. Air bekas membersihkan ikan, sayur, dan cucian beras kubagikan ke tanah tanaman. Bagian sayur dan biji buah mulai kutanam.
Mungkin karena rajin mengonsumsi air bekas cucian organik maka tanaman mulai tumbuh subur dan berbunga. Rasanya menyenangkan melihat bunga-bunga bermekaran. Sayuran yang kutanam juga mulai tumbuh, meski ada juga yang dimakan bekicot atau dimain-mainkan sama kucing.
Kini plastik sampahku tak sebanyak dulu. Hanya satu wadah plastik sedang serta satu wadah khusus untuk kaleng dan sampah yang bisa didaur ulang. Petugas sampah senang ada bonus kaleng dan sampah lainnya yang bisa dijual. Aku senang rumah bersih, petugas sampah hepi dapat tambahan cuan, dan tanaman juga senang dapat tambahan nutrisi bergizi.
