Jangan Sisakan Nasi dalam Piring, Satu Lagi Sketsa-sketsa Kembangmanggis
Hari Sabtu lalu aku spontan menuju Pia Apple Pie di Bogor. Di sana aku menikmati aneka makanan dan minuman serba apel sambil membaca-baca kembali buku berjudul Jangan Sisakan Nasi dalam Piring. Sambil menyantap makanan dan membaca, aku berharap menemukan keberuntungan dengan bertemu si penulis yang merupakan pemilik tempat makan ini. Ya si penulis yang bernama Kembangmanggis adalah nama pena dari Baby Ahnan, penggiat kuliner Bogor, yang juga pemilik Death by Chocolate dan Makaroni Panggang.
Sejak menemukan buku-buku sketsa Kembangmanggis, aku jadi mengoleksinya. Ada beberapa buku di rumah, dari Anak-anak Tukang, Gatal Menawar, dan Secangkir Coklat Panas. Untuk yang buku Jangan Sisakan Nasi dalam Piring ini aku membacanya di aplikasi iPusnas.
Bebek. Sejak kecil aku suka hewan ini. Lucu menggemaskan. Ketika besar dan kemudian suka akan bebek goreng, aku merasa bersalah. Aku berjanji akan mengurangi makan bebek goreng hingga suatu saat nanti bisa sama sekali tak menyantapnya. Kasihan nasib para bebek, apalagi setelah membaca buku ini.
Ada beberapa cerita tentang bebek dalam buku ini. Yang pertama adalah cerita seorang petani tua di Ubud bernama Pak Purna yang juga penggembala bebek. Ia mendapat penghasilan dari para bebek lewat telurnya. Ia sangat menyayangi kawanan bebeknya. Ia tak menjual ataupun memotong bebeknya untuk dimakan. Sehingga para bebeknya pun hidup damai menua. Sebagai balas budinya, telur dari bebek Pak Purna berkualitas tinggi. Kulitnya tebal dan volume kuning telurnya besar dan kemerahan.
Ketika ada bebek yang lumpuh, si penulis berupaya menolongnya dengan menggunakan arak Cina untuk dioleskan ke kakinya sambil dipijat pelan. Ia juga memberikan makanan berupa havermout campur susu dan sedikit bubuk Yunnan Bayao. Beberapa hari kemudian kedua bebek itu pulih dan bisa jalan, meski yang satu masih lemas.
Di cerita lain ia bercerita tentang pentingnya bambu panjang penggiring bebek. Ketika menetaskan telur bebek maka peternak bebek wajib meletakkan bambu panjang di sarang. Saat mereka menetas maka yang dilihat pertama adalah bambu panjang tersebut. Mereka akan mengira bambu panjang tersebut adalah ibunya sehingga mereka menurut ketika digiring oleh bambu panjang tersebut.
Ada banyak cerita makanan yang menarik, seperti sate ikan dan sate pusut, klengis, dan jajanan tradisional Bali yang mirip jajanan campur di Malang. Hanya namanya saja yang beda. Sepincuk ada singkong tumbuk, candil, hunkwe, klepon berisi pisang, lak, ketan hitam, dan agar-agar khas Bali. Lalu semuanya diberi parutan kelapa dan kucuran gula merah. Lak ini ternyata mirip serabi.
Klengis sendiri adalah kepala santan yang dimasak dengan bumbu genep alias bumbu Bali. Kepala santan ini biasanya muncul jika seseorang membuat minyak kelapa sendiri. Cerita bu Klengis dan anjingnya ini membuatku trenyuh.
Cerita tentang panen membuatku trenyuh. Sesuai dengan judul buku, si penulis mengajak pembaca untuk tidak menyisakan nasi dalam piring karena proses dari bertanam padi, memanen hingga jadi nasi yang siap dimakan begitu panjang dan melelahkan. Si penulis trenyuh ketika melihat seorang nenek memisahkan bulir padi dari jeraminya dengan mengangkatnya berulang-ulang. Ia melakukannya hingga petang, dengan mendapatkan beberapa genggam beras sekitar setengah kilogram.
Ada beberapa cerita lainnya. Ada cerita anjing yang membuatku terharu. Duh aku paling tak tahan jika membaca cerita para hewan. Kasihan.
Cerita-cerita dalam buku ini adalah kisah keseharian yang ditemui si penulis di Ubud. Sederhana, ringan, namun juga memikat. Gaya bertuturnya renyah dan mengalir. Dan kehadiran gambar sketsa yang dibuat oleh Anggit Bestari tersebut membuat cerita makin menarik.
Slow living. Aku jadi ingin terus menulis keseharian dan menikmati hidupku setiap hari seperti bu Kembangmanggis.
Detail Buku:
Judul Buku: Jangan Sisakan Nasi dalam Piring
Penulis: Kembangmanggis
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku: 224 halaman
Skor: 8/10
Gambar: iPusnas
