Kucing dan Gerimis
Puisi Eyang Sapardi Djoko Damono belakangan terus menjadi realita di kehidupan sehari-hari. Hujan turun bulan Juni. Kulihat ada kucing kecil yang pagi hari tengah menangis di tengah gerimis bulan Juni.
Aku ingin menyapanya. Alih-alih melakukannya, aku pura-pura tak melihatnya. Tentu ia sengaja berjalan sendirian dengan payung pada saat pagi-pagi begini dan cuaca gerimis. Ia tak ingin ketahuan menangis. Gerimis akan menjadi peredam sedu sedan tangisannya.
Kucing itu masih nampak bersedih. Ia berpayung dengan langkah kaki yang perlahan sekali. Rupanya Ia ingin menghayati rasa sedih agar kesedihan itu segera habis ditelannya dan kemudian pergi.
Aku ingin sekali membaca jampi-jampi agar cuaca cerah dan si kucing tersenyum lega. Ah aku salah. Aku terlalu ikut campur dengan urusannya. Ia pasti malah mencari hujan di pagi-pagi buta karena tak banyak orang dan kucing berlalu lalang.
Si kucing masih berpayung dengan langkah lirih. Ssttt… aku mendengar nyanyiannya yang dibawakan lirih ibarat elegi. Ia sepertinya berduka begitu dalam hingga air matanya pun susah mengalir.
Kucing itu terus berjalan. Kuperhatikan Ia, langkahnya menuju pelangi. Aku yakin di sana adalah arah menuju pelangi, meski hujan belum reda sama sekali. Ya, pasti ada sesuatu yang indah di ujung pelangi.
Si kucing masih berpayung di tengah gerimis. Pagi masa lama menuju siang. Hujan pun kemudian turun makin deras.
