Nyanyian Akar Rumput dan Wiji Thukul

Wiji Thukul Perkenalanku dengan Wiji Thukul berlangsung ketika aku masih remaja. Kakak mendapat pinjaman buku kumpulan puisi yang berjudul Aku Ingin Jadi Peluru. Dalam buku tersebut, ada satu baris puisi yang kuingat, “Hanya ada satu kata: Lawan“. Kemarin lusa aku menemukan secara tak sengaja buku puisi Wiji Thukul lainnya di aplikasi iJakarta. Judulnya, Nyanyian Akar Rumput.

Buku tersebut bersampul kuning cerah. Ada gambar tunas hijau dalam vas bunga. Buku ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama setebal 248 halaman pada tahun 2014. Ada tujuh bab puisi di dalamnya, dengan diawali pesan dari Wiji Thukul, pengantar, dan sosok penyair ini di mata Munir.

Wiji Thukul berpesan agar mereka yang ingin menjadi penyair harus terus menjaga jiwanya agar selalu bebas dan aktif. Bebas di sini dalam artian mencari kebenaran dan aktif untuk merenungkan dan mengevaluasi kembali makna kebenaran yang diyakininya. Untuk itu penyair harus terus belajar, mengasah dirinya, dan memperkarya cakrawalanya.

Buku ini disusun oleh berbagai pihak dan diotentikasi oleh adik Wiji, Wahyu Susilo. Di antara penyusun, ada nama Tunggal Pawestri dan Okky Madasari (pengarang buku 86, Entok, dan Maryam).

Yang menarik ada kata sambutan dari Munir, sosok aktivis yang nasibnya hampir sama dengan yang dialami oleh Wiji Thukul. Oleh karena mereka berdua dirasa vokal, pemerintah melakukan tindakan yang tak etis juga kejam. Keberadaan Wiji tidak diketahui sampai sekarang, sementara Munir meninggal karena diracun.

Dalam buku ini terlihat bahwa Munir mengagumi sosok Wiji Thukul. Ia menyebut puisi-puisi Wiji sebagai puisi perlawanan melawan pemerintah yang otoriter. Lewat baris “Hanya ada satu kata: Lawan“, ia berhasil menyalakan api perjuangan. Kalimat ini kemudian populer di setiap aksi.

Buku kumpulan puisi ini memiliki puisi-puisi dengan gaya bahasa yang lugas. Wiji tak banyak menggunakan kiasan dan bahasa yang berbunga-bunga. Ia banyak menggunakan bahasa sehari-hari untuk menyampaikan kegelisahan nya akan kondisi sosial, namun juga tetap memelihara rima. Ada kalanya bahasanya memang agak terdengar kasar dan vulgar.

Di buku ini ada puisi berjudul Nyanyian Akar Rumput yang kemudian terpilih menjadi judul buku kumpulan puisi ini. Berikut puisinya:

Nyanyian Akar Rumput

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
ayo gabung ke kami
biar jadi mimpi buruk, presiden!

Juli, 88

Puisi lainnya tentang perlawanan adalah Ucapkan Kata-katamu, yang relevan dengan kondisi saat ini:

Ucapkan Kata-katamu

jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan
jika kautahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan
apa maumu terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang, dipungut
atau dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian
jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kaupenjarakan ucapanmu
jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan

kemasan-kentingan-sorogenen

Wiji juga menyuarakan kegelisahannya akan kondisi alam. Seperti ia ungkapkan lewat Tanah.

Tanah

tanah mestinya dibagi-bagi
jika cuma segelintir orang
yang menguasai
bagaimana hari esok kamu, tani?
tanah mestinya ditanami
sebab hidup tidak hanya hari ini
jika sawah diratakan
rimbun semak pohon dirobohkan
apa yang kita harap
dari cerobong asap besi
hari ini aku mimpi buruk lagi
seekor burung kecil menanti induknya
di dalam sarangnya yang gemeretak
dimakan sapi
Solo, 89

Puisi dengan kalimat yang terkenal ada di puisi berjudul Peringatan. Puisi ini usianya sudah lebih dari tiga dekade, yakni dibuat tahun 1986.

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
makan hanya ada satu kata: lawan!
Solo, 86

Tak hanya tentang perlawanan, ada kalanya ia menuliskan sajak tentang hal keseharian. Puisi-puisi yang menyentuh kenangan dan nostalgia para pembacanya meski berbeda jaman dan tempat.

Buku puisi ini membuatku makin mengenal sosok Wiji. Secara visual, Wiji juga pernah dibuatkan film berjudul Istirahatlah Kata-kata yang diperankan mas Cindil alias Gunawan Maryanto (alm). Judul film itu kita diambil dari puisi Wiji. Berikut isinya:

Istirahatlah, Kata-kata

istirahatlah, kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang bisu

kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang meringis
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri

tidurlah kata-kata
kita bangun nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan

Tak bisa ditahan-tahan lagi

Solo Sorogenen, 12 Agustus 88


Di dalam film tersebut terlihat keresahan dan juga kekuatiran Wiji akan nasibnya yang masa depannya tidak jelas, juga rasa cemas dan marah dari Sipon, istrinya. Mungkin lain waktu akan kuceritakan film yang dibesut Yosep Anggi Noen ini. Filmnya bisa disimak di Bioskop Online.

Wiji Thukul Kalian bisa membaca buku puisi ini secara cuma-cuma di iJakarta. Bacalah dan resapilah, agar pesan dari Wiji Thukul terus tumbuh dan kita selalu berani dan ikhlas menjaga negeri ini.

Detail Buku:
Judul: Nyanyian Akar Rumput.
Penulis: Wiji Thukul
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 248 halaman
Tahun terbit: 2014.
Gambar dari iJakarta dan Bioskop Online



~ oleh dewipuspasari pada Agustus 29, 2024.

Tinggalkan komentar